Thursday, April 24, 2014

Entrok


Judul : Entrok

Penulis : Okky Madasari

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit : 2010

Entrok dalam bahasa jawa berarti beha atau bra. Entrok pada masa Marni tinggal berdua simbok masih termasuk barang mahal. Marni sudah seharusnya memakai entrok tapi simbok tidak punya uang. Sehari-hari simbok mengupas singkong di pasar Ngranget. Upah simbok hanya dibayar dengan bahan makanan.

Entrok menjadi impian Marni. Marni ikut simbok ke pasar.  Di pasar, perempuan hanya dibayar bahan makanan. Laki-laki yang biasanya dibayar dengan uang karena mereka mengangkut barang. Marni tanpa malu turun ikut nguli dan mulai menawarkan jasanya. Sekeping demi sekeping ia kumpulkan sampai terbeli lah entrok.

Impian Marni tidak berhenti setelah punya entrok. Marni membeli bakulan untuk berjualan ke rumah-rumah. Dengan ditemani Teja, suami yang tadinya kuli pasar, Marni berkeliling menjual sayur. Dagangan Marni bertambah jenisnya yaitu panci dan wajan yang bisa dicicil setiap hari. Bakulannya merambah ke bakulan duit. Marni akan meminjamkan uang dan orang tersebut mengembalikannya dengan jumlah lebih besar. Seperti biasa bisa dicicil setiap hari.

Rahayu adalah anak satu-satunya Marni dan Teja. Kehidupan mereka sekarang tidak melarat seperti dulu. Mereks sudah punya rumah yang cukup besar. Teja sering menghabiskan waktu di luar rumah, pulang dengan mulut bau arak. Penyakit laki-laki kalau punya uang banyak ngelirik perempuan lain.  Marni membiarkan kelakuan Teja asalkan tidak berbuat di depan matanya. Sekalipun sakit hati, Marni tak mau bercerai. Enak aja nanti harta dibagi dua. Wong, dia yang capek cari uang lakinya tinggal nikmatin aja.

Rahayu mendapat ejekan anak rentenir, lintah darat yang bikin orang susah. Rahayu malu dengan teman-teman sekolahnya. Hubungan anak ibu ini tetap panas karena Marni masih nyuwun ke leluhur, Mbah Ibu Bumi Bapa Kuasa. Setiap minggu Marni membuat tumpengan dan ayam panggang sebagai wujud syukur atas rezekinya. Rahayu menolak mengikuti ritual Marni. Menurut Rahayu, ibunya berdosa. Puncaknya saat sajen Marni dibuang oleh Rahayu. Kedua bertengkar hingga saling diam beberapa hari. Setelah lulus SMA, Rahayu merantau ke Jogja.

Rahayu pulang sebentar untuk menikah dengan Amri, pria yang sudah beristri dan beranak satu. Setelah menikah, tidak ada kabar berita dari Rahayu. Marni pun tidak mencari tahu. Bertahun-tahun kemudian, Marni dikejutkan dengan keberadaan Rahayu yang ditahan di Semarang. Naluri seorang ibu meluruhkan pertikaian-pertikaian masa lalu. Ibu dan anak ini bertangis-tangisan. Marni rutin mengunjungi Rahayu. Biaya perjalanan Singget - Semarang tidak sedikit. Uang modal Marni ikut termakan. Demi anak tak apa lah. Saat Rahayu keluar penjara, Marni harus membayar uang jaminan. Demi anak, sawah tebu dijual.

Orang-orang yang bekerja di pabrik gula kaya-kaya dari hasil ceperan. Marni bekerja keras untuk mendapatkan uang.  Dua minggu sekali ia harus menyetor uang keamanan ke bapak-bapak berseragam loreng.  Keadaan berubah cepat orang-orang tidak lagi meminjam uang Marni. Ada bank yang menawarkan pinjaman dengan bunga lebih rendah.

Kenapa orang yang kaya karena kerja keras malah lebih dipercaya memelihara tuyul atau melakukan pesugihan ? Sementara pak lurah, karyawan pabrik gula yang banyak harta dari menilep uang haram dari sana-sini malah disegani dan dikagumi ? Lha emangnya cukup dari gaji yang tidak seberapa bisa beli ini-itu. Siapa yang jadi tuyul sebenarnya eh maksudnya yang memelihara tuyul ?


Entrok sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris “The Years of Voiceless”. Menurut saya judul bahasa Inggrisnya lebih tepat dengan keseluruhan cerita. Dalam novel Entrok ini ada banyak peristiwa-peristiwa yang perlu dicermati. Tindakan represif dari oknum yang menjaga keamanan. Tekanan untuk orang Tionghoa. Perlawanan rakyat kecil mempertahankan tanah leluhur mereka. Aparat selalu benar. Jika salah, kembali ke poin pertama. Bagi yang melawan pilihannya mau mati atau ditangkap dan dicap komunis.


Monday, April 21, 2014

Semanis Es Krim




Judul : The Empress of Ice Cream

Penulis : Anthony Capella

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit : 2013

Cinta bagai es. Merangkak menyelimutimu, merasuki tubuhmu diam-diam, menghancurkan pertahananmu, menemukan relung-relung paling dalam dagingmu. Tidak seperti panas atau sakit atau terbakar melainkan lebih seperti mati rasa di dala,seakan-akan jantungmu sendiri mengeras, mengubahmu menjadi batu. Cinta mencengkerammu, meremasmu dengan kekuatan yang sanggup memecah batu karang atau mengoyak lambung kapal. Cinta mampu mengangkat lempeng ubin yang berat, menghancurkan marmer, melayukan dedaunan di pohon.


Mademoiselle Louise de Keroualle diutus oleh Raja Perancis, Louis XIV untuk menghibur Raja Inggris, Charles II.  Adik perempuan Raja Charles, Madame Henrietta d'Angleterre, menikah dengan adik dari Raja Louis. Louise tadinya adalah dayang-dayang Madame di istana Versailles. Louise mempunyai daya tarik yang cukup memikat dan cukup pintar dikirim ke Inggris bersamaan dengan Carlo Demirco, sang confectioner Raja. 

Carlo ahli membuat hidangan es. Waktu itu suguhan pencuci mulut dari es hanya dinikmati oleh Raja. Carlo pernah melamar Louise namun ditolak mentah-mentah. Orang tua Lousie mengirim anaknya ke istana dengan harapan bisa menikah dengan bangsawan. Carlo mempunyai kedudukan yang cukup baik di istana sebagai satu-satunya ahli pembuat es.

Tujuan Raja Louis mengirimkan Louise untuk membuat Raja Charles berada di pihak Perancis dalam perang melawan Belanda. Perempuan adalah salah satu kelemahan Charles. Kedatangan Louise menarik perhatian semua kalangan istana. Di bawah tatapan yang melecehkan, orang-orang berpendapat Louise adalah gundik baru raja yang sengaja dikirimkan Perancis. Karena Louise adalah orang yang paling dekat dengan adiknya di Versailes, Raja Charles berbagi kenangan dan kesedihan dengannya. Sebuah sayap khusus sudah disiapkan di istana Charles II untuk Loise. Penyerahan total Louise tidak semudah yang dibayangkan. Louise mengulur waktu hingga membuat Raja Charles II tidak sabar.

Kabar ratu yang sedang sakit membuat Louise berandai-andai bisa menikahi Raja Charles II. Sebuah impian yang tidak mungkin. Ketika rencana berjalan lambat, Raja Louis mengirimkan ancaman pada Louise, ia bisa kembali ke Perancis dan diasingkan di biara.  

Selain pembaca disuguhkan proses membuat es yang rumit dari komposisi-komposisi yang tidak lazim, Novel ini juga menceritakan tingkah laku Raja dan bangsawan yang berfoya-foya di dalam istana. Wanita di dalam istana berlomba-lomba menarik perhatian Raja. Intrik dan politik istana sangat mempengaruhi kehidupan kaum bangsawan. 


Dua Saudara


Judul : Dua Saudara

Penulis : Jhumpa Lahiri

Penerbit : BukuKatta

Tahun Terbit : 2014


Dua saudara, Subhash dan Udayan, tumbuh bersama sedari kecil di Tollygunge. Jarak umur mereka tidak terpaut jauh dan postur badannya kurang lebih sama sehingga kadang mereka kerap bertukar baju. Mereka berdua berhasil diterima di perguruan tinggi. Udayan ke Presdirency untuk kuliah Fisika dan Subhash kuliah ilmu kimia di Jadavpur.

Setelah lulus kuliah, Udayan mendapatkan pekerjaan di sekolah teknik dan tidak tertarik untuk melanjutkan sekolahnya. Subhash ingin belajar ke luar negeri. Ia melamar di program PhD di Amerika Serikat. Subhash mengajak Udayan untuk sama-sama ke luar negeri. Pintu ke kehidupan yang lebih baik akan mereka dapatkan tapi Udayan menolak. Jika kamu pergi, kamu tidak akan kembali. Udayan melarang Subhash pergi tapi tekad Subhash sudah kukuh.

Udayan tertarik dengan pergerakan kaum merah yang berasal dari China. Dalam surat-surat yang diterima Subhas, dua saudara ini membicarakan perkembangan India. Udayan yakin bahwa India menuju perubahan yang ia dan gerakannya yakini. Kata-kata dar Mao Tse Tung disebarkan ke desa-desa. Selain itu, Udayan memberitahu Subhas dirinya telah menikah dengan gadis pilihannya, Gauri. Pernikahan di India sebagian besar karena perjodohan. Udayan telah melangkahi wewenang orang tuanya. Kekecewaan orang tua mereka diungkapkan dalam surat.

"Kami harap bila saatnya tiba, kamu akan mempercayakan kepada kami untuk menentukan masa depanmu, memilihkan istri untukmu yang menjadi hadiah pada pernikahanmu. Kami harap kamu tak akan mengabaikan harapan kami, seperti adikmu lakukan."

Sebuah telegram dari orang tuanya mengabarkan Udayan terbunuh. Subhash langsung pulang ke Tollygunge. Ia mendapati adiknya telah ditembak polisi. Gauri, adik iparnya, tidak begitu diacuhkan oleh orang tua Subhash. Keberadaannya tidak dianggap. Tidak ada pilihan bagi Gauri selain hidup dengan mertuanya. Ia lari dari rumah untuk menikah dengan Udayan. Subhash bersimpati karena bagaimanapun Gauri sedang mengandung anak adiknya. Satu-satunya cara yang menurut Subhash dapat menolong Gauri adalah menikahinya.


Jhumpa Lahiri memenangkan penghargaan Putlizer tahun 2000 untuk karyanya Interpreter of Maladies. Dua saudara adalah terjemahan dari cerpen Brotherly Love yang dimuat di The New Yorker, 10 Juni 2013. Ketika saya ingin memasukkan rating di goodreads, ternyata review-review Dua Saudara masuk ke The Lowland yang terbit 20 September 2013. Setelah saya baca sinopsis dari The Lowland memang ceritanya tentang dua saudara, Subhash dan Udayan. Hmmm. Bingung kan mau ngerating di Goodreads nya ? Menurut saya entitas nya tidak sama jadi saya tidak memberikan rating di Goodreads. Walaupun begitu, Dua Saudara menarik minat saya untuk membaca The Lowland yang tentu lebih lengkap menceritakan kisah hidup Subhash dan Udayan. 

Wednesday, April 16, 2014

Murjangkung





Judul : Murjangkung : Cinta yang Dungu dan Hantu-hantu

Penulis : A.S Laksana

Penerbit : Gagas Media

Tahun Terbit : 2013


Setiap tukang cerita pastilah berniat memukau orang sejak pertama.

Murjangkung, raksasa berkulit bayi, yang datang membeli tanah enam ribu meter persegi di tepi timur sungai kota. Murjangkung mendirikan rumah gedong. Pangeran pemilik tanah menagih sewa pada Murjangkung yang dibalas dengan moncong meriam. Lalu, datanglah rombongan kedua yang mendirikan rumah gedong di tepi barat sungai, menyaingi rumah gedong Murjangkung. Pertempuran tidak dapat dielakkan keduanya. Murjangkung berhasil menang setelah sempat lari meninggalkan rumah gedong dan pasukannya lalu kembali dengan rombongan pemabuk dan budak-budak dari timur. Murjangkung mendirikan kota sendiri. Masalahnya kaskus belum ditemukan saat itu. Kotoran-kotoran manusia menumpuk mendatangkan penyakit buat penduduk kota, disentri, malaria. Sampai Murjangkung sendiri mengalaminya. Murjangkung mati sakit perut. Anaknya mendirikan patung untuk menghormati ayahnya di tanah lapang yang kemudia dikenal dengan nama lapangan banteng.

Sebut saja namanya Gloria. Sebelum Gloria lahir, kakek neneknya sangat mendambakan kehadiran cucu dari 3 anaknya. Anak pertama tidak menikah. Anak kedua menikah dengan pria yang agak berumur, sudah 7 tahun menikah belum dikaruniai anak. Kakek neneknya tidak hanya berdoa meminta kepada Tuhan, mereka mendatangi tempat-tempat keramat yang dipercaya manjur untuk mendapatkan keturunan. Kemana orang bilang akan diturut dua orang tua ini. Akhirnya calon cucu hadir juga namun yang mengandung adalah anak ketiga yang dipanggil cacing. Cacing belum menikah dan tidak mau memberitahu siapa ayah si cabang bayi. Hingga lahirlah gloria ke dunia. Gloria tidak lama menghirup udara dunia. Kakeknya menggorok lehernya karena ilham yang ia dapatkan. Bahkan ia pun belum sempat diberi nama. Saat kakek dan ibunya meninggal, mereka tidak bertemu di dunia lain.

Dua cerita di atas, Murjangkung dan Otobiografi Gloria adalah bagian dari dua puluh cerita AS Laksana. Masih ada cerpen Dongeng Cinta yang Dungu, Cerita absurd bagaimana jiwa bisa tertukar. Perempuan dari Masa Lalu. "Di masa lalu, kita adalah sepasang kekasih." Seto mengucapkan ke sembarang perempuan siapa tahu ada yang kena.  Seto Menulis Peri, Pelangi, dan Para Putri. Seorang lelaki, jika tidak menjadi raja di rumah sendiri, niscaya akan menjadi setan. Mayor yang sudah memiliki istri cantik tetap saja memberikan bunga ke perempuan lain. Teknik Mendapatkan Cinta Sejati. Katakan saja agama kalian berbeda, mungkin penolakan saat menyatakan cinta tidak akan terlalu menyakitkan. Dua Perempuan di Satu Rumah. Cerita anak, ayah dan ibu yang mati sekitar umur 30an tahun. Dan cerpen-cerpen lainnya sebagai berikut : Bagaimana Kami Selamat dari Kompeni dan Sebagainya ; Bukan Ciuman Pertama ; Tuhan, Pawang Hujan, dan Pertarungan yang Remis ; Kisah Batu Menangis ; Seorang Utusan Memotong Telinga Raja Jawa ; Lelaki Beristri Batu ; Efek Sayap Kupu-Kupu ; Ibu Tiri Bergigi Emas ; Seorang Lelaki Telungkup di Kuburan ; Malam Saweran ; Cerita untuk Anak-Anakmu ; Kuda ; Peristiwa Kedua, Seperti Komidi Putar.

Ini pertama kalinya saya membaca tulisan dari AS Laksana. Saya cukup terkesan dengan cerpen pertama, Murjangkung. Saya baru tahu kalau Murjangkung tersebut adalah Jan Pieterszoon Coen, Gubernur Hindia Belanda yang terkenal dengan kekejamannya membantai penduduk asli pulau Banda. AS Laksana menceritakan saat terakhir Murjangkung dengan gayanya sendiri.


Tuesday, April 15, 2014

Kopdar BBI Jabodetabek

Ketika Koordinator Umum BBI, Helvry Sinaga atau yang akrab saya panggil Bang Epi, mengundang kopdar di rumahnya saya semangat sekali. Saya langsung bertanya rute angkot kesana.  Hihihi. Sehari sebelum kopdar, dua sahabat saya kehilangan ayahnya. Salah satu sahabat saya tinggal di daerah Cileungsi. Lumayan jauh (banget) dari rumah saya. Dari Cileungsi saya langsung ke rumah duka St Carolus di Salemba. Seharian di luar rumah dan baru sampe rumah malam hampir jam 10, membuat saya agak ragu bisa ikut kopdar apa tidak. Badannya rasanya capek, untung saja pas bangun tidur besoknya udah lumayan segar.

Perjalanan ke rumah Bang Epi cukup menarik. Saya naik angkot merah 56 Uki Cawang – Cileungsi. Yang saya tidak duga adalah kapasitas angkotnya, ditengah-tengah pun ada bangkunya.  Saya takjub dengan ibu-ibu yang naik pakai kebaya plus rambut disasak. Panas banget angkotnya. Saya duduk di depan bapak berseragam loreng sambil lirik-lirik name tag tasnya. Ow Paspamres, ujar saya dalam hati. Penumpang mengumpulkan ongkos secara kolektif lalu diserahkan ke sopir. Sebenarnya perjalanannya engga lama sih tapi ngetem ngumpulin penumpangnya yang bikin banjir keringet. Hahaha. Kata Bang Epi minta diturunin di Plaza Cibubur. Masalahnya saya duduk cukup jauh dari abang sopir. Akhirnya saya bertanya ke ibu sebelah, eh kebetulan dia turun di Plaza Cibubur juga.

Saya menuju McD, dimana Rend an Mbak Threez sudah menunggu. Ternyata sudah ada Bang Epi, jadi kami langsung menuju mobilnya Bang Epi. Sampai di rumah Bang Epi langsung disambut oleh anjing peliharaan Bang Epi. Owy bukan yah namanya kalau engga salah ingat. Owy langsung kegirangan melihat tuannya datang. Sementara kami bertiga kelihatan stay cool tapi sebenarnya ketakutan. Hahahaha. Kami berkenalan dengan abang dan adiknya Bang Epi. Terus Bang Epi langsung mempersilahkan kami makan siang dulu.

Ruangan di lantai 2 rumah Bang Epi bisa dikatakan ruang baca atau perpustakaan. Ada lima lemari buku. *atau lebih ya ?. Mata saya langsung tertuju ke rak yang berisi buku-buku accounting. Buku-buku yang juga saya pergunakan waktu kuliah. Whoaah PSAKnya ada tiga ! Takjub saya. Hahaha.

Bang Epi sudah menyediakan kue dan lilin untuk merayakan ultah BBI yang ketiga.  Make a wish dulu sebelum tiup lilin, meniupkan harapan-harapan yang baik untuk kegiatan dan member BBI. Secara bersamaan, BBI Semarang dan Solo juga merayakan ultah BBI. Yippie! Kami berbincang-bincang mengenai BBI *pastinya*, buku, blog dan macam-macam. Hihi. 

Happy Birthday BBI *tiup terompet*

Potong kuenya..potong kuenya sekarang juga ^^

Selera bukunya Bang Epi sama saya masih agak-agak sama. Ngiler berdiri di depan rak bukunya Bang Epi. Koleksi buku sejarahnya menggiurkan. Hahaha. Saya meminjam dua buku : Janda dari Jirah – Cok Sawitri dan Jamangilak Tak Pernah Menangis – Martin Aleida. Bang Epi baru sadar punya buku Martin Aleida yang ini. Hahaha.

Me @ Helvry's Library


Terima kasih Bang Epi sudah menyediakan rumah, makan siang, dan voucher taxi. Bukunya aku pinjam dulu ya. ;) Terima kasih juga Rend an Mba Threez yang udah sharing-sharing di kopdar ini. Semoga kopdar-kopdar yang akan datang, saya bisa ikut lagi. Ayuk kita realisasikan kopdar di Perpus Pusat UI. Sekalian kita bisa piknik di pinggir danau. :)





Monday, April 14, 2014

Guest Post : Buku Dalam Hidupku


Masih dalam suasana ulang tahun Blogger Buku Indonesia. Kali ini masing-masing member BBI yang mengikuti Guest Post akan posting bareng. Kebetulan blog saya kedatangan tamu dari Kalimantan Selatan yaitu Ira Mustika.


#BUKUDALAMHIDUPKU

Akhir tahun lalu, mungkin masih ada yang ingat event #5BukuDalamHIdupku yang diadakan oleh Mas Irwan. Tentang apa itu definisi #5BukuDalamHidupku bisa ditengok di blognya Mas Irwan. Tapi untuk saya sendiri, #BukuDalamHidupku punya arti yang sedikit khusus.

Ada beberapa buku --- yang setelah membacanya --- membuat saya terpengaruh sebegitunya sampai melakukan sesuatu atau mengambil keputusan akibat pengaruh buku tersebut. Buku-buku itulah yang saya masukkan ke dalam kategori #BukuDalamHidupku.

5 diantara buku-buku tersebut sudah saya tulis untuk event  #5BukuDalamHidupku. Nah, satu yang terbaru saya tulis untuk event ini. Dan buku tersebut adalah buku Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah karya Tere Liye.

Buku ini sukses membuat saya mendapatkan pekerjaan.  Bagi yang sudah pernah membaca bukunya pastinya sudah tahu dong bagaimana perjuangan Borno untuk bekerja dan saya terinspirasi sekali dengan itu.
Pasca lulus kuliah, saya punya impian untuk melanjutkan pendidikan saya ke jenjang yang lebih tinggi. Mendapatkan beasiswa adalah satu-satunya pilihan karena orang tua saya sudah memastikan tidak bisa membantu masalah biaya.

Nah, posisi saya yang tinggal di kota kecil membuat hal tersebut jadi sulit. Untuk mengurus segala persyaratan dan dokumen saja harus ke luar kota yang letaknya sangat jauh. Selain butuh waktu juga butuh biaya. Padahal itu baru mengurus persyaratan, diterima atau tidaknya masih belum tentu.   

Saya pun bertekad untuk tidak melamar pekerjaan yang membuat saya terikat. Terutama saya menghindari pekerjaan kantoran. Sama seperti Borno, saya juga gonta-ganti pekerjaan. Dari bisnis kecil-kecilan sampai jadi volunteer di perpustakaan. Intinya saya kerja serabutan  sambil terus berharap kalau aplikasi beasiswa saya akhirnya diterima.

Masalahnya adalah, di kota kecil kami, pekerjaan paling berprestise adalah pekerjaan kantoran. Ditambah dengan keadaan kota kecil dimana semua orang saling mengenal. Membuat keluarga saya malu karena saya tidak bekerja sebagai pegawai kantoran. Belum lagi bisik-bisik tetangga yang mengatakan kalau percuma saja saya menjadi salah satu lulusan terbaik kampus tapi tidak berhasil menjadi pegawai. Yah meskipun saya sudah bisa menghasilkan uang,  tapi saya tidak punya seragam dan gaji bulanan. Dan dalam kamus mereka itu sama saja dengan pengangguran :D.

Tapi saya tetap keras kepala. Senpai  saya pernah bilang kalau saya sudah dapat pekerjaan yang ‘aman’, maka passion untuk melanjutkan kuliah akan berkurang dan perlahan akan hilang. Dan itu adalah salah satu alasan terkuat kenapa saya menghindari pekerjaan kantoran yang mengikat. 

Yah, setidaknya sampai  akhirnya saya membaca buku ini. Saya begitu terkesan dengan kegigihan Borno mencari pekerjaan. Keadaaan sosial maupun setting tempatnya sangat mirip dengan tempat tinggal saya. Toh, kami sama-sama tinggal di Kalimantan :D. Ada banyak quote dan scene yang menggambarkan hal itu. Salah satunya ada di paragraf berikut:

“Itu setidaknya membuktikan satu hal, Borno.” Pak Tua menghiburku. “Sepanjang kau mau bekerja, kau tidak bisa disebut sebagai pengangguran. Ada banyak anak muda berpendidikan di negeri ini yang lebih senang menganggur dibandingkan bekerja seadanya. Gengsi, dipikirnya tidak pantas dengan ijazah yang punya. Itulah kenapa angka pengangguran kita tinggi sekali, padahal tanah dan air terbentang luas.” --- hal. 49

Hmmm...seandainya saja keluarga dan tetangga saya berpikiran sama dengan Pak Tua. Tapi dalam kasus saya malah mereka yang gengsi :D. Namun, kata-kata Borno berikutlah yang paling berkesan pada akhirnya.

Sesungguhnya aku tidak pernah keberatan dengan jenis pekerjaan remah-remah itu ---  daripada Ibu terus mengomel melihatku bengong di rumah. Hanya saja dua tahun lulus SMA tanpa juntrungan, rasa-rasanya sudah saatnya aku melakukan sesuatu sedikit serius. Ternyata enam bulan terakhir, setelah aku berganti-ganti banyak jenis pekerjaan, tanpa sepengetahuanku, Pak Tua, Cik Tulani, dan Koh Acung mengunjungi Ibu pada suatu malam. Mereka membicarakan sesuatu. --- hal. 49

Terpengaruh oleh ini, saya jadi berpikir bahwa anggapan keluarga dan tetangga saya, meskipun sedikit menyebalkan, adalah untuk kebaikan saya sendiri.  Sebelumnya saya juga sering menangkap basah mereka sedang mendiskusikan bagaimana caranya supaya juga jadi “orang”. Seharusnya saya bersyukur masih punya keluarga besar yang peduli dengan saya meskipun mereka tidak mendukung impian saya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang S2.

Dan persis setelah membaca pemikiran Borno di atas, ada tawaran pekerjaan dari dua teman secara berurutan. Saya rasa konyol sekali kalau saya menolak tawaran pekerjaan yang jelas-jelas ditawarkan kepada saya. Ditambah lagi pekerjaan tersebut sesuai dengan kompetensi saya. Tanpa pikir panjang, saya langsung menerima tawaran tersebut.

Dan disinilah saya sekarang. Jadi orang seperti harapan keluarga saya. Aman jadi pegawai kantoran dengan seragam dan gaji bulanan. Dan sama seperti Borno, akhirnya saya bisa mengatakan
Inilah pekerjaan baruku. Ibu, aku berjanji, aku akan bekerja sungguh-sungguh. --- hal. 49

Masalahnya sekarang adalah, benar seperti kata senpai saya, passion saya untuk kuliah perlahan mulai menghilang, terutama saat gajian :D. Saya juga tidak bisa bebas lagi mengurus persyaratan ini itu di luar kota.  
Saya juga masih punya janji kepada “orang tua-orang tua” saya di kampus. Mereka berharap saya bisa melanjutkan pendidikan saya ke jenjang yang lebih tinggi.


Saya rasa saya perlu mencari sebuah buku yang tepat, yang bisa membangkitkan kembali passion saya untuk kuliah. Ada saran? ^_^  

----

Ceritanya menginspirasi ya. :) Mari kita mengenal sosok penulisnya, Ira Book Lover, secara lebih dekat. ^^



    Hi Ira, Deskripsikan dirimu secara singkat donk. 
'   Galuh Amuntai' yang ngaku-ngaku jadi pecinta buku yang ngeblog tentang buku untuk melatih writing skill nya yang masih nol besar (^‿◕) Note: Galuh itu sebutan untuk pemudi suku Banjar Kalimantan Selatan. Sama seperti None kalau di Jakarta. Sedangkan Amuntai adalah nama kota kampung halaman saya ^_^

  Pertama kalinya suka baca dari kapan ? Waktu bisa membaca dengan lancar, kelas 1 SD kalau tidak salah. Waktu itu suka sekali sama majalah Bobo dan sejak itu jadi ketagihan membaca. Btw, sampai sekarang saya masih baca Bobo lho *tidaknyadarsamaumur* :D

 Penulis favoritnya siapa ? Banyak. Tapi yang buku-bukunya selalu saya beli dan selalu saya suka adalah Jacqueline Wilson, Jostein Gaarder dan J.K. Rowling.  
  
 Apakah kamu mempunyai jadwal tertentu untuk membaca buku ? Ada target baca tertentu ? Errr....sepertinya tidak. Saya selalu bawa dan baca buku tiap ada kesempatan. Selesai satu cari lagi buat yang berikutnya. Singkatnya selalu ada buku yang di currently reading lah. Kalau target tidak ada. Paling cuma ikut RC, tapi ikutnya mengalir saja. Kalau mencapai target alhamdulillah, kalau tidak enjoy saja. Targetnya digunakan untuk dokumentasi dan ikut RC terutama untuk GA-nya. *ketahuanmotifsebenarnya* :D
  
  Apakah ada  yang tidak kamu sukai dari membaca buku ? Ada.  Saya tidak bisa tidak menamatkan sebuah buku. Jadi masalah kalau buku yang  saya baca tidak terlalu saya suka. Rasanya ada yang hilang atau ketinggalan gimana gitu kalau tidak habis dibaca. Jadi meskipun tidak suka sama ceritanya, bertahan saja sampai halaman terakhir. Paling parah itu kalau bukunya berseri. Pokoknya harus bertahan sampai selesai semua serinya baru bisa tenang *nasib*. 
   
Apakah ada kesulitan dalam memperoleh buku di kotamu ? Banget susahnya. Kebetulan saya tinggal di kota Amuntai, kota kecil di Kalimantan Selatan yang jaraknya sekitar 5 jam perjalanan darat dari Banjarmasin. Tidak ada toko buku besar di sana. Yang ada cuma toko buku kecil yang kebanyakan jual buku pelajaran sama buku agama. Kalaupun ada buku fiksi pilihannya cuma sedikit dan kadang ada yang bajakan. Jadi kalau mau beli buku harus nunggu book fair (jarang), ke kota besar (jauh), atau beli online (ongkirnya mahal abis).

  Seberapa besar pengaruh book review dalam membaca ? Jika buku tersebut mempunya review negatif apakah kamu tetap membacanya ? Tidak terlalu berpengaruh. Kecuali yang saya suka sinopsisnya dan si reviewer ngasih nilai full untuk buku tersebut. Kalau begitu baru saya setengah mati pengen baca juga *lebay*. Kalau reviewnya negatif bukunya tetap saya baca kok. Secara gitu di tempat saya susah dapat buku. Jadi kalau ada buku meskipun pernah kena review negatif pasti dibaca lah. Hitung-hitung juga siapa tahu bukunya bagus menurut saya tapi tidak bagi si reviewer :D
  
  Punya tempat favorit untuk baca buku ? Dimana ? Apa yang membuat betah baca disana ? 
  Hmmm...dimana ya? *malahbaliknanya*. Sepertinya tidak ada. Saya suka baca dimana saja. Termasuk di tempat2 yang 'aneh' buat membaca :D *abaikan*

  Seberapa sering kamu ke perpustakaan ? Bisa diceritakan perpustakaan yang sering kamu kunjungi
  Hampir tiap hari. Tapi rata-rata dua kali seminggu. Saya paling sering ke Perpustakaan Daerah Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) dan Perpustakaan Daerah Kota Banjarbaru. Dua-duanya di Kalimantan Selatan. Dan saya pernah jadi volunteer di kedua perpustakaan tersebut (^‿◕). HSU itu nama kabupaten yang ibu kotanya kota Amuntai, my hometown. So, kalau kehabisan stok owned book, larinya ke perpustakaan deh. Perpustakaan di HSU gedungnya cantik. Letaknya di samping taman kota. Asik sekali membaca di sana. Apalagi kalau membacanya pas menghadap ke arah taman di saat hujan. Pemandangannya jadi hijau dan segar. Sekarang koleksi bukunya keren-keren. Kemarin baru saja ada penambahan koleksi satu rak penuh. Isinya buku-buku Gagas, Diva dan Visi Media. Jadi satu rak isinya buku-buku baru dengan cover-cover cantik semua. Bikin ngiler deh.

Yang kedua Perpustakaan Kota Daerah Banjarbaru. Banjarbaru adalah kota tempat saya kuliah dan bekerja. Letaknya sekitar 1 jam perjalanan dari kota Banjarmasin. Perpustakaan ini koleksinya cukup lengkap dan keren-keren. Koleksi buku fantasinya cukup banyak. Buku-buku lamanya masih terawat. Saya paling favorit sama koleksi R.L Stine-nya. Saya juga suka ruangan outdoor-nya. Meskipun sempit, tapi boleh makan dan minum di sana. Asekkk. Oh ya, Banjarbaru merupakan kota yang banyak dihuni oleh kampus-kampus dari berbagai sekolah tinggi, jadinya referensi kuliah-nya lebih banyak daripada buku fiksi. Dan hampir setiap hari selalu penuh oleh mahasiswa.

Aku lihat blog  Ira Book Lover cukup aktif dan update nih. Apakah ada waktu yang dikhususkan untuk blogging ? Ngg..tidak ada waktu khusus untuk blogging. Karena saya tidak pandai menulis, jadi kesan saya setelah membaca buku harus secepatnya dituliskan biar mood-nya tidak hilang. So, saya ngeblog tiap habis baca buku atau tiap habis nemu materi buat meme. Karena saya sering baca buku, jadi kegiatan ngeblog-nya ngikutin aja ^_^

  Ada pertanyaan tambahan nih. Di jawaban di atas kan kamu ingin menambah writing skill kamu, apakah kamu ada keinginan menulis buku ?  Selain menulis di blog buku, apa ada blog lainnya yg kamu tulis ? Tidak, aku melatih writing skill buat menulis tulisan ilmiah dan tulisan-tulisan lain untuk melengkapi persyaratan beasiswa semisal motivation letter :D Ada 2, cuma sudah jarang terurus. Satu di sini, satunya di sini

   Terima kasih ya Ira atas waktunya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan saya. Semoga cita-citanya melanjutkan sekolah tercapai ya. :)



[Pengumuman] Giveaway Winners BBI Anniversary 2014



Happy Anniversary 3rd BBI !

Semoga semakin aktif dalam dunia membaca dan memberikan bermanfaat bagi masyarakat. Amien.


Sebelumnya, saya mengucapkan terima kasih untuk yang telah mengikuti giveaway ini. Wow! Ada sebanyak 68 peserta giveaway kali ini. Quote-quote yang masuk menarik dan bagus-bagus bisa jadi referensi buat saya.

Pemenangnya Buku Pilihanmu senilai Rp 100.000 adalah :

JEM

Selamat !

Seperti yang saya beritahukan di awal, ada empat hadiah hiburan untuk empat peserta yang beruntung. Empat buku dari tersebut adalah :


Yang beruntung yang terpilih dari random.org.


1. Kukila : Amaya 
2. Murjangkung  : Elika Herliana
3. Notasi  : Dian Mayasari Azis
4. Negeri yang Buas  : Ila Rizky

Selamat untuk para pemenang !

Masing-masing pemenang akan saya hubungi via email. Pemenang diharapkan memberikan data diri, alamat lengkap dan nomor handphone untuk pengiriman buku.Untuk yang belum menang jangan kecewa,Insya  bulan depan saya akan mengadakan special giveaway untuk blog anniversary yang ke-5. :)