Friday, September 12, 2014

Orang - orang Proyek


Judul : Orang-orang Proyek

Penulis : Ahmad Tohari

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit : 2007


Hulu Sungai Cibawor menghanyutkan sampah-sampah, batang pisang, hingga batang mahoni. Hujan deras di hulu sungai membuat banjir besar di hilir. Banjir tersebut merusak persiapan pembuatan tiang jembatan. Hasil kerja yang sudah memakan biaya ratusan kerja sia-sia. Orang-orang proyek harus mulai dari awal lagi. Proyek jembatan ini dipimpin oleh Dakijo, ketua pelaksanaan lapangannya di bawah tanggung jawab laki-laki muda bernama Kabul. Sebenarnya proyek bisa saja mengantisipasi kerugian dari banjir jika pembangunan dimulai pada musim kemarau. Pertimbangan politik lebih diutamakan. Pembangunan jembatan digenjot selesai sebelum pemilihan umum. Peresmiannya bertepatan waktunya dengan masa kampanye. Kabul pusing dengan biaya yang membengkak. Mending budgetnya dipakai habis untuk beli bahan bermutu tinggi, dana terkuras untuk hal-hal di luar proyek. Seperti sumbangan perayaan ultah partai GLM, uang pungutan liar dari pejabat setempat. 
 

Kehidupan di sekitar proyek jembatan Cibawor yang tadinya wilayah kosong menjadi semarak karena bedeng-bedeng kuli, rumah makan Mak Sumeh. Sesekali hiburan tante Ana yang berdandan ala perempuan meriuhkan suasana malam di proyek. Hampir sebagian besar pekerja proyek adalah laki-laki, hanya Wati yang mengurus administrasi yang perempuan. Kabul yang masih bujangan dijodoh-jodohkan dengan Wati oleh Mak Sumeh. Kabuh menanggapi biasa saja tapi ketika melihat Wati merengut ada yang berdesir di hatinya. Pak Tarsa pemancing tua suka meniup seruling tak jauh dari proyek. Ia tidak hanya pandai meniup seruling tapi lihai memancing suara hati Kabul mengenai hitam putih kehidupan.
 

Kabul dulunya aktivis di kampus. Kabul masih mempertahankan idealismenya bahwa jembatan yang dibangunnya bermutu tinggi. Permainan orang-orang proyek bisa terjadi dari lapisan terbawah seperti kuli atau tukang. Kuli mau saja disuap warga untuk semen dari proyek. Mandor mencatut penerimaan truk pasir. Hingga di tingkat sekelas kepala proyek. Pembiayaan jembatan yang berasal dari hutang luar negeri tidak pernah dipikirkan. Jembatan yang jadi adalah jembatan yang dibawah mutu dengan biaya dua kali lipat untuk membuat dua jembatan yang bermutu baik. Tekanan datang dari orang partai bahkan pengurus masjid setempat. Kualitas ang di bawah mutu tidak hanya tidak bertahan lama. Dampaknya sampai pada keselamatan warga yang menggunakan. Kepala desa Cibawor, Basar, dulunya teman diskusi semasa mahasiswa ikut menekannya.
 
Seberapa tahan Kabul menghadapi tekanan orang-orang proyek ?


Dilema idealisme versus pragmatis seperti ini sering dirasakan setelah terjun ke kehidupan nyata. Praktek mark up dan pemborosan anggaran dianggap hal yang wajar. Semua kebagian enak. Justru sikap Kabul yang dianggap benalu bagi mereka yang telah terbiasa dengan ‘kewajaran’ orang-orang proyek. Idealisme Kabul membuatnya bersikukuh untuk menolak bahan material yang bermutu rendah. Faktor keselamatan menjadi perhatiannya. Bagi yang mementingkan perut sendiri tidak akan terlintas di pikiran mereka akan keselamatan masyarakat banyak. Ah kalau rusak lagi berarti ada proyek baru lagi yang artinya uang tambahan mengalir lagi.