Saturday, October 11, 2014

The Monogram Murders



Judul : The Monogram Murders

Penulis : Sophie Hannah

Penerjemah:
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit : 2014



Hercule Poirot mempunyai rutinitas makan malam di Pleasant's Coffee House. Suatu malam seorang wanita datang penuh ketakutan dan berkali-kali memperhatikan jalanan. Gelagat wanita tersebut membuat Poirot mendatanginya. Poirot memperkenalkan dirinya sebagai mantan polisi. Ia menanyakan wanita yang kemudian diketahui bernama Jennie apakah ia sedang berada dalam bahaya. Poirot mengatakan ia mempunyai teman yang masih aktif di Scotland Yard. "Berjanjilah pada saya: apabila saya ditemukan dalam keadaan tewas, Anda harus memberitahu teman Anda si polisi untuk tidak mencari pembunuh saya".


Yang dimaksud Poirot adalah Edwards Catchpool yang baru bertugas selama dua tahun di Scotland Yard. Pada malam Poirot bertemu dengan Jennie, Catchpool menunggu Poirot dari rutinitas kamis malamnya di Pleasant's Coffee House. Catchpool baru saja melihat tiga korban pembunuhan di Hotel Bloxham dalam waktu yang berdekatan, dua wanita dan satu pria. Benda yang identik ditemukan dalam mulut korban. Tiga buah manset dari emas murni bermonogram berinisial PIJ.


Poirot mengikuti Catchpool ke Hotel Boxlam. Ketiga korban bernama Richard Negus, Ida Gransbury, dan Harriet Sippel. Kamar masing-masing terletak di lantai 1, 2, dan 3. Harriet Sippel, kamar 121. Richard Negus, kamar 238. Ida Gransbury,kamar 317.  Korban diletakkan begitu rapi seolah-olah disiapkan untuk mati. Kamar-kamar mereka hampir identik. Susunan perabot diletakkan kurang lebih mirip satu sama lain. Keterangan dari pegawai hotel menyebutkan ketiga korban saling kenal. Sementara di satu sisi, Poirot masih memikirkan Jennie walaupun belum tentu ia mempunyai kaitan dengan pembunuhan di Hotel Boxlam.


Benang merah dari ketiga korban pembunuhan yaitu desa bernama Great Holling. Hariet Sippel dan Ida Gransbury mencatatkan alamat asal mereka. Diketahui Richard Negus dan Ida Gransbury  pernah bertunangan di masa lalu. Richard pindah ke Devon setelah peristiwa menggemparkan terjadi di Great Holling. Sikap Richard berubah drastic sejak itu.


Catchpool mengunjungi Great Holling sementara Poirot tetap di London mengurai benang kusut kasus ini sesuai dengan cara kerja sel-sel kelabunya. Dalam waktu singkat kehadiran Catchpool di desa tersebut diketahui orang banyak. Orang-orang yang ditemuinya tidak bersikap ramah. Ada ketakutan dan keengganan untuk beramah tamah dengan polisi scotland yard tersebut. Catchpool berhasil mendapat cerita tragis 16 tahun lalu tentang suami istri pendeta yang menegak racun yang bersangkut paut dengan ketiga korban dan Jennie, perempuan yang ditemui Poirot ! 


Apakah ada motif balas dendam dalam pembunuhan di Hotel Boxlam ?


Saya termasuk yang antusias menyambut terbitnya The Monogram Murders. Sebuah kerinduan yang terjawab untuk Agatha Christie Fans dapat kembali membaca kisah detektif Hercule Poirot. Ceritanya cukup menarik tetapi butuh waktu beberapa hari untuk menyelesaikannya. Biasanya jika buku yang sangat ingin saya baca tidak membutuhkan waktu lama. Agak kurang sreg dengan openingnya, pertemuan Jennie dan Poirot di kedai kopi. Tidak semudah itu membicarakan dengan orang asing dan Poirot langsung mencium ada pembunuhan. Menurut saya seperti kebetulan yang dipaksakan. 


Friday, September 12, 2014

Orang - orang Proyek


Judul : Orang-orang Proyek

Penulis : Ahmad Tohari

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit : 2007


Hulu Sungai Cibawor menghanyutkan sampah-sampah, batang pisang, hingga batang mahoni. Hujan deras di hulu sungai membuat banjir besar di hilir. Banjir tersebut merusak persiapan pembuatan tiang jembatan. Hasil kerja yang sudah memakan biaya ratusan kerja sia-sia. Orang-orang proyek harus mulai dari awal lagi. Proyek jembatan ini dipimpin oleh Dakijo, ketua pelaksanaan lapangannya di bawah tanggung jawab laki-laki muda bernama Kabul. Sebenarnya proyek bisa saja mengantisipasi kerugian dari banjir jika pembangunan dimulai pada musim kemarau. Pertimbangan politik lebih diutamakan. Pembangunan jembatan digenjot selesai sebelum pemilihan umum. Peresmiannya bertepatan waktunya dengan masa kampanye. Kabul pusing dengan biaya yang membengkak. Mending budgetnya dipakai habis untuk beli bahan bermutu tinggi, dana terkuras untuk hal-hal di luar proyek. Seperti sumbangan perayaan ultah partai GLM, uang pungutan liar dari pejabat setempat. 
 

Kehidupan di sekitar proyek jembatan Cibawor yang tadinya wilayah kosong menjadi semarak karena bedeng-bedeng kuli, rumah makan Mak Sumeh. Sesekali hiburan tante Ana yang berdandan ala perempuan meriuhkan suasana malam di proyek. Hampir sebagian besar pekerja proyek adalah laki-laki, hanya Wati yang mengurus administrasi yang perempuan. Kabul yang masih bujangan dijodoh-jodohkan dengan Wati oleh Mak Sumeh. Kabuh menanggapi biasa saja tapi ketika melihat Wati merengut ada yang berdesir di hatinya. Pak Tarsa pemancing tua suka meniup seruling tak jauh dari proyek. Ia tidak hanya pandai meniup seruling tapi lihai memancing suara hati Kabul mengenai hitam putih kehidupan.
 

Kabul dulunya aktivis di kampus. Kabul masih mempertahankan idealismenya bahwa jembatan yang dibangunnya bermutu tinggi. Permainan orang-orang proyek bisa terjadi dari lapisan terbawah seperti kuli atau tukang. Kuli mau saja disuap warga untuk semen dari proyek. Mandor mencatut penerimaan truk pasir. Hingga di tingkat sekelas kepala proyek. Pembiayaan jembatan yang berasal dari hutang luar negeri tidak pernah dipikirkan. Jembatan yang jadi adalah jembatan yang dibawah mutu dengan biaya dua kali lipat untuk membuat dua jembatan yang bermutu baik. Tekanan datang dari orang partai bahkan pengurus masjid setempat. Kualitas ang di bawah mutu tidak hanya tidak bertahan lama. Dampaknya sampai pada keselamatan warga yang menggunakan. Kepala desa Cibawor, Basar, dulunya teman diskusi semasa mahasiswa ikut menekannya.
 
Seberapa tahan Kabul menghadapi tekanan orang-orang proyek ?


Dilema idealisme versus pragmatis seperti ini sering dirasakan setelah terjun ke kehidupan nyata. Praktek mark up dan pemborosan anggaran dianggap hal yang wajar. Semua kebagian enak. Justru sikap Kabul yang dianggap benalu bagi mereka yang telah terbiasa dengan ‘kewajaran’ orang-orang proyek. Idealisme Kabul membuatnya bersikukuh untuk menolak bahan material yang bermutu rendah. Faktor keselamatan menjadi perhatiannya. Bagi yang mementingkan perut sendiri tidak akan terlintas di pikiran mereka akan keselamatan masyarakat banyak. Ah kalau rusak lagi berarti ada proyek baru lagi yang artinya uang tambahan mengalir lagi.