Pages

Wednesday, October 31, 2012

Jeritan Hati Nurani : Dilema Kehidupan Sang Hakim

Jeritan Hati Nurani : Dilema Kehidupan Sang HakimJeritan Hati Nurani : Dilema Kehidupan Sang Hakim by J.M. Coetzee

Penerbit  : Yayasan Obor Indonesia

My rating: 3 of 5 stars



Si Aku adalah seorang hakim tua bekerja di sebuah kota perbatasan. Tahun-tahun ia bertugas mengurusi perkara yang sepele. Namun situasi kerajaan semakin tegang dalam menghadapi penduduk asli yang disebut kaum barbar. Desas- desus yang berkembang kaum barbar akan bersatu untuk menyerang kerajaan. Posisi kota di perbatasan semakin terancam. Serangan kaum barbar terjadi dua puluh mil dari pusat kota mengakibatkan perubahan bagi penduduk. Pasukan kerajaan menangkap seorang lelaki dan anak kecil yang dicurigai kaum barbar dan membawanya ke kota. Hakim tidak menyukai cara interogasi yang dilakukan Kolonel Joll yang menyebabkan kematian. Tak lama kemudian, pasukan tersebut membawa orang-orang yang lebih banyak. Mereka dipaksa menunjukkan dimana keberadaan kaum barbar. Hakim membawa seorang gadis muda dari kumpulan orang-orang tersebut ke apartemennya. Tindakan hakim tersebut dinilai memalukan karena ‘memungut’ gadis dari kaum barbar dan menjadikannya teman tidur.

Hakim berniat mengembalikan gadis tersebut kembali ke kaumnya. Kaum barbar hidup nomaden. Rombongan hakim menempuh perjalanan jauh di ujung musim dingin. Sekembalinya ke kota, pasukan militer sudah menguasai kota. Hakim tersebut ditangkap dengan tuduhan menjalin kontak dengan kaum barbar yang merupakan musuh dari kerajaan. Posisinya sebagai hakim dilucuti.

Ketika pasukan berhasil menangkap sekelompok kecil kaum barbar, laki-laki bar-bar ditelanjangi dan diarak ke alun-alun kota. Penyiksaan dilakukan di depan umum tanpa melihat ada anak kecil yang menonton. Satu-satunya suara yang menentang adegan penyiksaan tersebut yaitu si hakim. Propaganda tentang keberingasan kaum barbar berhasil membuat keresahan pada masyarakat. Tanaman gandum yang rusak dicurigai disebabkan oleh ulah kaum barbar. Masyarakat menggantungkan harapannya kepada pasukan keamanan.

‘Jeritan Hati Nurani : Dilema Kehidupan Sang Hakim’ adalah terjemahan dari ‘Waiting for the Barbarians’. Judul terjemahannya mengacu pada suara hati dari si hakim. Cerita yang menyentil kehidupan apartheid di Afrika Selatan. Pertama kali diterbitkan pada tahun 1980 yang saat itu Apartheid masih berlangsung. Suara hakim menunjukkan suara minor dari golongannya yang mayoritas tidak masalah terhadap tindakan biadab tersebut. Mengapa sebagai bangsa yang beradab malah melakukan tindakan yang biadab terhadap penduduk asli? Pengalaman membaca buku ini mengenalkan bagaimana rupa dari apartheid itu karena gambaran awal saya apartheid itu seperti diskriminasi rasial di Amerika Serikat. ‘Waiting for the Barbarian’ termasuk dalam great books of the 20th century yang diterbitkan oleh Penguin Books.


Tentang Penulis : J.M Coetzee.


John Maxwell Coetzee atau J.M Coetzee merupakan sastrawan kelahiran Cape Town. Afrika Selatan. Ia menerima nobel sastra pada tahun 2003. Penulis Afrika Selatan yang kedua mendapatkan nobel sastra setelah Nadine Gordimer. Karyanya yang berjudul  ‘Life & Times of Michael K’ dan ‘Disgrace’ mendapatkan penghargaan Man Booker Prize.  Kedua buku tersebut telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia ‘Kisah Hidup Michael K’ (Jalasutra, 2003) dan ‘Aib’ (Jalasutra, 2005). Sejak  tahun 2006, J.M Coetzee menjadi warga Negara Australia dan tinggal di Adelaide.





Monday, October 29, 2012

Jalan Tak Ada Ujung

Jalan Tak Ada UjungJalan Tak Ada Ujung by Mochtar Lubis

Penerbit : Yayasan Obor Indonesia

My rating: 4 of 5 stars



“Saya sudah tahu –semenjak semula—bahwa jalan yang kutempuh ini adalah tidak ada ujung. Dia tidak akan habis-habisnya kita tempuh. Mulai dari sini, terus, terus, terus, tidak ada ujungnya. Perjuangan ini, meskipun kita sudah merdeka, belum juga sampai ke ujungnya. Dimana ujung jalan perjuangan dan perburuan manusia mencari bahagia? Dalam hidup manusia selalu setiap waktu ada musuh dan rintangan-rintangan yang harus dilawan dan dikalahkan. Habis satu muncul yang lain, demikian seterusnya. Sekali kita memilih jalan perjuangan,maka itu jalan tak ada ujungnya. Dan kita, engkau, aku, semuanya telah memilih jalan perjuangan”.- (Hazil, Jalan Tak Ada Ujung)

Kondisi sosial politik Indonesia pasca deklarasi kemerdekaan masih belum stabil. Kota Jakarta masih dikuasai oleh tentara sekutu yang melakukan penggeledahan sesuka hati. Laskar-laskar rakyat masih melakukan pertempuran di daerah Bekasi – Karawang. Guru Isa ikut bergabung dalam perjuangan. Dalam pergerakan ia berjumpa dengan pemuda bernama Hazil. Kecocokan mereka dipersatukan oleh musik. Tidak seperti Hazil yang telah memilih berjuang dengan sepenuh hati, Guru Isa berjuang karena ketakutannya. Takut dengan anggapan orang sekitar. Tuduhan menjadi mata-mata sangat serius karena bisa saja langsung dieksekusi mati. Ketika Guru Isa berada dalam perjuangan, ketakutannya semakin bertambah. Ketakutan-ketakutannya menjadi mimpi buruk di setiap malam. Walaupun ia tidak mengatakannya secara terus terang, istrinya Fatimah mengetahuinya.

Walaupun statusnya sebagai guru mendapatkan penghargaan lebih dari masyarakat namun gaji Guru Isa tidak lagi mencukupi kebutuhan keluarganya. Sementara tidak mungkin untuk meminta kenaikan kepada kepala sekolah. Akhirnya Guru Isa mengambil buku-buku tulis baru dan menjualnya ke toko alat tulis. Hati nuraninya menentang pertama kalinya tetapi keadaan membuatnya mengabaikan rasa bersalahnya.
Sementara itu Hanzil lebih banyak terjun langsung dalam perjuangan. Dia menghampiri rumah Guru Isa jika ada tugas perjuangan atau untuk bermain biola. Frekuensi kedatangannya tidak menentu. Kadang-kadang ia menghilang cukup lama.

Suasana dari novel ‘Jalan Tak Ada Ujung’ ini suram dan mencekam. Mochtar Lubis tidak hanya menggambarkan suasana Jakarta pada saat revolusi tetapi juga situasi sosial yang diwakilkan lewat tokoh-tokohnya seperti Guru Isa, Hazil, Ayah dari Hazil. “Sebagai kebanyakan orang di hari-hari pertama revolusi itu, Guru Isa belum menganalisa benar-benar kedudukannya, kewajibannya dan pekerjaannya dalam revolusi. Selama ini dia membiarkan dirinya dibawa arus. Arus semangat rakyat banyak”.

‘Jalan Tak Ada Ujung’ pertama kali diterbitkan pada tahun 1952 oleh penerbit PT Dunia Pustaka Jaya. Novel ini sudah diterjemahkan dalam bahasa Inggris 'A Road with no End' pada tahun 1968.


View all my reviews

Wednesday, September 26, 2012

Kafka on The Shore


Kafka on the Shore (Labirin Cinta Ibu dan Anak)
My rating: 3 of 5 stars

Kafka on The Shore : Labirin Asmara Ibu dan Anak
Penulis : Haruki Murakami
Penerbit : Pustaka Alvabet
Tahun terbit : 2008
Jumlah halaman : 597


Pada ulang tahunku yang kelima belas, aku akan lari dari rumah, melakukan perjalanan ke sebuah kota yang sangat jauh, lalu tinggal di sebuah sudut perpustakaan kecil.
 
Kafka Kimura (bukan nama sebenarnya) melarikan diri dari rumah, membawa  kabur uang ayahnya, dan bersikap seolah-olah sudah 17 tahun. Ia hidup berdua dengan ayahnya. Dari usia 4 tahun,ia ditinggalkan oleh Ibu dan kakak perempuannya. Kafka pergi ke daerah Takamatsu. Dalam perjalanan,ia bertemu dengan Sakura yang kurang lebih seumur kakak perempuannya yang hilang. Kafka ingin menghabiskan waktunya di perpustakaan. Dan sebelum datang ke Takamatsu,ia telah memiliki informasi mengenai perpustakaan yang ada di kota tersebut. Tujuannya adalah perpustakaan Komura,sebuah perpustakaan pribadi yang dibuka untuk umum. Perpustakaan ini dikelola oleh Nona Saeki dan Oshima. 

Suatu ketika Kafka pingsan dengan bajunya yang berlumuran darah. Ia panik karena takut telah berbuat salah atau kriminal,Ia meninggalkan hotel. Ia meminta bantuan Oshima untuk memberikan tempatnya menginap . Sosok Nona Saeki menarik perhatian Kafka. Konon Nona Saeki pernah menjalin cinta dengan anak lelaki keluarga Komura,pemilik perpustakaan Komura.  Mereka pernah berpisah kota karena kesedihannya Nona Saeki menciptakan lagu 'Kafka di tepi pantai'. Kafka berteori bisa saja Nona Saeki adalah ibu kandungnya. Suatu malam Kafka didatangi 'hantu' Nona Saeki yang berusia 15 tahun tapi mana mungkin itu hantu jika Nona Saeki masih hidup. Kafka pun jatuh cinta.

Satoru Nakata,seorang pria berusia 60 tahun yang mempunyai setengah bayangan, dapat berkomunikasi dengan kucing. Ia tidak bisa membaca dan menulis. Setiap bulannya ia mendapatkan subsidi kota dari pemerintah kota Tokyo. Kemampuan berbicara dengan kucing memberikan tambahan penghasilan untuk Nakata dengan mencari kucing peliharaan yang hilang. Nakata sedang mencari seekor kucing torti bernama Goma. Pencarian ini membawanya ke hadapan Johnnie Walker. Orang yang membunuh kucing-kucing dan mengumpulkan jiwa mereka. Johnnie Walker meminta Nakata untuk membunuhnya. Dalam tekanan dan provokasi dari Johnnie Walker,akhirnya Nakata menusuk Johnnie Walker. Nakata melaporkan dirinya pada polisi tapi perkataannya tidak dipercayai oleh polisi jaga. Dan ketika mayat Johnnie Walker ditemukan Nakata sudah pergi meninggalkan kota. 

Apa hubungannya Kafka dengan Nakata?

----------


Sebenarnya saya tidak ada keinginan atau planning membaca Kafka on the Shore. Buku ini sudah lama di rak buku yang belum dibaca. Saya tidak menemukan bukunya ‘Jejak Langkah’ nya Pram karena baru pindahan rumah. Mata saya tertumbuk pada Kafka on the Shore. Baiklah, saya akan mencoba membaca karya dari Haruki Murakami ini. Saya hanya baru mendengar namanya dari teman-teman goodreads. Kalau dari cover terjemahan bahasa Indonesianya, jujur saja tidak menarik. Sub judulnya ‘Labirin asmara Ibu dan Anak’ menancapkan asumsi kisah ini seperti sangkuriang di kepala saya. Dan ketika membaca pun jadi menunggu-nunggu bagian yang disebutkan di cover.

Awal buku ini saya kira ada tiga cerita yang berbeda; anak yang lari dari rumah, peristiwa misterius yang menimpa anak SD pada perang dunia kedua, dan kisah kakek yang dapat berbicara pada kucing. Apa benang merahnya? Harus cukup bersabar mengikuti alur ceritanya yang serupa labirin. Saya sempat tertidur membaca Kafka on the shores dan memimpikan si kakek Nakata yang bisa berbicara dengan kucing itu. :D 

Buku ini padat dengan  berbagai pengetahuan dari filsafat, mitologi yunani, sejarah, musik klasik dan lain-lain. Pengetahuan Kafka yang sedari kecil hobi membaca di perpustakaan bisa 'nyambung' berdiskusi dengan Oshima. Saya menyukai karakter Nakata yang kesannya lugu tapi langsung bengong mendapat kejutan mengenai kakek tersebut. Yang paling tidak saya sukai yaitu fantasi seksualnya Kafka yang memang diceritakan detail.  Hampir saja saya menyerah tapi ceritanya membuat saya tertantang untuk menyelesaikannya.    

Selesai membaca Kafka on the shore, saya merasakan kontradiksi, absurd tapi keren. Ceritanya di luar imajinasi. Kalau memang keren kenapa bintangnya cuma tiga? Karena saya tidak berhasil memahami imajinasinya Murakami ini. Banyak pertanyaan saya tak terjawab,'kenapa begini? kok bisa kayak gitu?'. 


Tuesday, September 18, 2012

Harimau! Harimau!


Harimau! Harimau! Harimau! Harimau! by Mochtar Lubis
My rating: 5 of 5 stars


Judul: Harimau! Harimau!
Penulis : Mochtar Lubis
Penerbit : Yayasan Obor Indonesia
Tahun terbit : 1992

Satu kelompok pengumpul damar yang terdiri dari Wak Katok, Pak Haji, Buyung, Sanip, Sultan, Talip dan Pak Balam hendak kembali pulang ke kampung. Selama di hutan mereka menumpang di huma milik Wak Hitam. Wak Hitam hidup menyendiri bersama istri mudanya, Siti Rubiyah. Orang-orang sering meminta jimat,mantra dan guna-guna kepada Wak Hitam yang dikenal dukun hebat.

Dalam perjalanan, Buyung berhasil menembak seekor rusa jantan dengan senjata lantak milik Wak Katok.  Rusa tersebut disembelih dan dibagi-bagi ke anggota kelompok. Tak lama kemudian terdengar suara auman ‘nenek’ dari tempat tertembaknya rusa. Mereka meneruskan perjalanan yang dibayangi kecemasan. ‘Nenek’ yang suaranya mereka dengar adalah harimau tua yang sedang lapar. Harimau tersebut marah dan semakin lapar mendapati buruannya telah raib. Mudah saja harimau tersebut mengikuti kelompok pengumpul damar itu, bau daging rusa tercium sangat jelas. Pelan-pelan ‘nenek’ mengikuti jejak mereka. Dan teror pun dimulai!

Korban yang jatuh pertama adalah Pak Balam. Ia diterkam harimau ketika sedang di sungai. Namun ajal belum menjemputnya, kaki dan punggungnya yang penuh luka-luka. Selagi masih ada kesempatan, Pak Balam membuat pengakuan dosa yang membebani hatinya. Ia membeberkan dosa-dosanya sewaktu perang melawan Belanda. Waktu itu Wak Katok membunuh teman seperjuangan mereka yang terluka. Walaupun yang melakukan perbuatan dosa adalah Wak Katok, Pak Balam merasa bersalah karena mengetahui dan tidak melarang perbuatan Wak Katok.  Ia yakin harimau tersebut dikirim oleh Yang Maha Kuasa untuk menghukum dosa-dosa mereka. Pak Balam mengajak yang lain untuk bertobat  “Akuilah dosa kalian. Akuilah dosa kalian. Harimau itu dikirim Tuhan untuk menghukum kita”. Pak Balam mengingau berulang-ulang tentang dosa, harimau, dan hukuman tuhan. Manusia tidak luput dari kesalahan dan kekhilafan. Masing-masing mereka mempunyai dosa yang disimpan dan ditutup rapat sendiri. Igauan dari Pak Balam yang sekarat ini meresahkan hati dan pikiran anggota lain yang teringat dengan dosa lama mereka.

Ada dua jenis harimau yaitu harimau biasa dan harimau jadi-jadian yang dikirim untuk menghukum dosa-dosa mereka. Harimau manakah yang mereka hadapi? Wak Katok menggunakan ilmunya untuk mengetahui jenis harimau yang mengikuti mereka. Mereka sedikit bernapas lega karena harimau tersebut harimau biasa. Lengah sekali, berikutnya Talip yang diserang harimau. Ia mati seketika. Dengan jatuhnya dua korban, Buyung menyarankan lebih baik mereka memburu harimau tersebut. Kelompok dipecah menjadi dua. Wak Katok, Buyung dan Sanip memburu harimau. Tanjung dan Pak Haji menunggui Pak Balam yang terluka di pondok bermalam mereka. Namun Tanjung tak tahan dengan igauan Pak Balam yang mengingatkannya dengan dosa terhitamnya hingga ia pergi menyusul tiga rekannya.

Harimau ini lebih cerdas daripada mereka duga. Mereka berputar-putar mencari jejak harimau. Dari jejak-jejak di tanah Harimau tersebut sempat mengejar babi hutan tapi ia berhenti dan kembali ke perhatiannya semula. Dan ketika menemukannya jejak yang masih baru, mereka berada di tempat makan mereka sebelumnya. Auman dan jeritan manusia merobek keheningan rimba raya dari kejauhan. Buyung hendak menolong tetapi Wak Katok melarangnya. Buyung menuruti ucapan Wak Katok karena ia dianggap pemimpin dari kelompok dan guru bagi Buyung. Mereka baru mengetahui bahwa jeritan tersebut milik kawan mereka sendiri, Tanjung, setelah kembali ke pondok. Sudah dua orang teman mereka mati dan satu orang masih kritis. Keesokan harinya Pak Balam pun menyusul dua rekannya ke alam baka.

Keadaan mereka semakin terdesak. Wak Katok meminta mereka mengakui dosa-dosa seperti pesan Pak Balam. Pak Haji yang dikenal penyendiri di kampung menceritakan dosa-dosanya. Sementara Buyung enggan mengakui dosa-dosanya, biarlah perzinahan antara dirinya dengan Siti Rubiyah, istri Wak Hitam, dibawa sampai mati. Wak Katok yang terkenal orang paling pemberani di kampung, jago silat, tinggi ilmu dukunnya sebenarnya menyimpan ketakutan dalam hati namun karena gengsi tidak ia tunjukkan. Ia menyesali ucapan Pak Balam yang membocorkan kejahatannya. Kenapa tidak langsung mati saja dia diterkam harimau?,pikirnya. Ia lebih meresahkan penilaian anggota kelompok lainnya yang kini memandangnya berbeda dibandingkan tobat atas dosa-dosanya sendiri.

Naluri untuk mempertahankan hidup memperbesar keberanian mereka. Disaat genting ini lah sifat-sifat asli mereka keluar. Siapa yang oportunis, siapa yang mau cari aman sendiri, siapa yang penakut, dan siapa yang peduli dengan keselamatan orang lain. Pemimpin yang selama ini mereka segani, keramati karena ‘ilmu’-nya yang tinggi ternyata tak mampu menyelamatkan mereka.

Berhasil kah mereka menyelamatkan diri dari intaian harimau ?

-----------

Nilai moral dan spiritualitas dalam novel ini sangat kental dicampur dengan ketegangan diintai oleh harimau. Secara gamblang Mochtar Lubis menggambarkan dosa-dosa besar manusia seperti mencuri, memperkosa, berzinah, dan membunuh. Harimau! Harimau! ditulis sewaktu Mochtar Lubis dipenjara di Madiun. Mochtar Lubis mendapatkan inspirasi dari pengalamannya bertemu harimau di hutan Sumatera. Menurut saya karakter yang paling juara dari tokoh-tokoh di Harimau! Harimau! adalah Wak Katok. 

Panthera tigris sumatrae (sumber dari sini)

Pertama kali mengenal Harimau! Harimau! melalui pelajaran Bahasa Indonesia. Saya pikir saya pernah membaca buku ini tapi tidak ada ingatan saya sama sekali tentang isi novel ini. Anggap saja saya membaca dari awal. Saya bernostalgia dengan cerita-cerita nenek saya tentang hutan di kampung kami yang ketika ia muda pernah bertemu beruang. Orang tua dulu menyebut harimau dengan panggilan 'Inyiak' yang artinya kakek dalam bahasa Indonesia. Namun membacanya sekarang, gambaran rimba raya yang masih perawan terdistorsi dengan kenyataan sekarang yang kita saksikan. Kerusakan hutan yang semakin parah dan populasi harimau Sumatera yang menuju kepunahan. Semoga kisah ini akan tetap bertahan untuk generasi yang mendatang.

Baca juga review karya Mochtar Lubis lainnya :
-          Pemburu Muda
-          Perang Korea


Wednesday, September 12, 2012

Wishful Wednesday 4


Wishlist minggu ini Novel Mitch Albom yang terbaru yaitu The Time Keeper. Awalnya saya menyukai karya-karya Mitch Albom setelah membaca For One More Day. Saya mengoleksi karya-karya lainnya; Tuesday With Morrie, Have a Little Faith, The Five People You Meet in Heaven. Dari twitternya Mas Amang (@scriptozoid), ada tautan untuk membaca 18 halaman pertama dari ebook  'The Time Keeper'.


Saya terhenti pada kata-kata sebagai berikut:


Try to imagine a life without timekeeping.
You probably can’t. You know the month, the year, the day of the week.
There is a clock on your wall or the dashboard of your car. You have a schedule, a calendar, a time for dinner or a movie.
Yet all around you, timekeeping is ignored.
Birds are not late. A dog does not check its watch. Deer do not fret over passing birthdays.
Man alone measures time.
Man alone chimes the hour. And, because of this, man alone su๏ฌ€ers a paralyzing fear that no other creature endures.
A fear of time running out.


A fear of time running out. Kata ini seperti berulang-ulang di pikiran saya membuat saya merenung. :) Aaa jadi makin penasaran sama The Time Keeper. Saya tidak sabar membaca novel ini. Data dari goodreads menyebutkan novel ini  dipublikasikan per tanggal 4 September 2012.  Semoga cepat sampai ke Indonesia. :)

Mau ikutan Wishful Wednesday juga? Silahkan  mampir ke blog mbak astrid. :)

Monday, August 27, 2012

Student Hidjo

Student Hidjo

My rating: 2 of 5 stars






Judul buku : Student Hidjo
Penulis : Mas Marco Kartodikromo
Penerbit : Penerbit Narasi
Tahun Terbit : 2010

Setelah Hidjo tamat sekolah HBS, Ayahnya Raden Potronojo mengirim Hidjo belajar ke Belanda untuk menjadi insinyur. Ibunda Hidjo, Raden Nganten Potronojo, khawatir anak satu-satunya nanti akan terjebak dengan pergaulan bebas di Eropa. Hidjo dikenal anak yang berperilaku baik, tidak banyak bicara, kutu buku, dan pendengar yang baik. Hidjo telah bertunangan dengan Raden Ajeng Biroe. Mereka masih ada hubungan keluarga dan dari kecil sudah dijodohkan. Selama 7 tahun mereka akan berpisah, Raden Ajeng Biroe percaya Hidjo akan setia padanya. Walaupun sudah ada calon istri, Hidjo sering terkenang dengan kecantikan adik perempuan temannya, Raden Ajeng Woengoe.

Kepergian Hidjo ke Belanda membuat Ibu dan tunangannya jatuh sakit. Mereka beristirahat di Hotel Barataadem. Disana mereka bertemu dan berkenalan dengan Raden Adjeng Wongoe dan Ibunya,Raden Ayu Regent. Ayahanda Raden Adjeng Wongoe adalah Regent di Kabupaten Djarak. Kedekatan mereka selama di hotel membuat Raden Nganten Potronojo dan Raden Ajeng Biroe diundang untuk menginap di Djarak. Kakak laki-laki R.A Wongoe jatuh hati kepada R.A Biroe. Terjadilah cinta segiempat antara Hidjo-R.A Wongoe-R.A Biroe-Raden Mas Wardojo.

Hidjo mendapati kehidupan orang Belanda di Eropa berbeda dengan di Hindia Belanda. Di Belanda, Hidjo menumpang di rumah direktur maatschapij. Salah satu putri direktur, Betje, jatuh cinta dengan Hidjo. Sikap Betje jelas-jelas menaruh hati namun tidak ditanggapi oleh Hidjo. Selama beberapa waktu Hidjo masih memegang pesan ibunya.’Hati-hati dengan perempuan Eropa’. Karena kedinginannya,Betje pun mengolok-olok Hidjo dengan sebutan onzijdig (banci). Lama-lama,Hidjo menanggapi Betje juga hingga lupa lah ia dengan nasehat Ibunya.

Untuk mengenal sastra Indonesia pada masa kolonial,buku ini menarik. Namun ceritanya tidak sesuai harapan saya saat pertama kali membaca sinopsisnya. Judul ceritanya student Hidjo tapi porsi cerita mengenai Hidjo sedikit. Pertentangan budaya kolonial bukan dari tokoh bumiputera (Hidjo) tapi melalui tokoh Controleur Walter yang mencintai kebudayaan Jawa. Tokoh-tokoh bumiputera yang memang berasal dari kaum priyayi sepertinya tidak ada masalah dengan penjajahan. Bagaimana studi Hidjo di Belanda tidak diceritakan secara detail, lebih banyak menceritakan pergaulan Hidjo dengan Betje. Kisah R.A Wongoe-R.A Biroe-Raden Mas Wardojo yang berada di tanah air justru lebih dominan.

Student Hidjo merupakan cerita bersambung di harian Sinar Hindia pada tahun 1918. Dan diterbitkan dalam bentuk buku pada tahun 1919. Marco Kartodikromo (dikenal sebagai Mas Marco) adalah seorang wartawan dan aktivis pergerakan zaman kolonial Hindia Belanda. Ia pernah bergabung dengan Surat Kabar Medan Prijaji pimpinan Tirto Adhi Soeryo. Ia berguru ilmu jurnalistik kepada Tirto Adhi Soeryo. Ia pernah berkali-kali keluar masuk penjara kolonial Hindia Belanda karena tulisan-tulisannya yang kritis. Mas Marco bergabung ke organisasi Sarekat Rakyat yang dipimpin, H. Misbach. Organisasi ini dikenal dekat dengan Partai Komunis Indonesia, Pada pemberontakan komunis yang gagal pada tahun 1927, Mas Marco ditangkap dan dibuang ke Boven Digoel hingga akhir hayatnya.

Thursday, August 16, 2012

Negeri Para Bedebah

Negeri Para BedebahNegeri Para Bedebah by Tere Liye


My rating: 4 of 5 stars



"Aku konsultan keuangan profesional,aku tidak peduli dengan kemiskinan. Yang aku cemaskan justru sebaliknya,kekayaan,ketika dunia dikuasai segelintir orang,nol koma dua persen,orang-orang yang terlalu kaya" -Thomas.

Bank Semesta milik Om Liem kalah kliring 5 miliar yang menyebabkan saham Bank Semesta dihentikan. Dalam goncang gancing perekonomian dunia yang tidak stabil,hal tersebut akan menimbulkan kepanikan. Nasabah Bank Semesta telah mengantri di kantor-kantor cabang. Nasabah ingin menarik dana mereka dari bank sementara dana di bank sudah disalurkan ke pihak ketiga dalam bentuk kredit dan produk keuangan lainnya. Lalu uang darimana untuk mengembalikan dana nasabah? Bank Semesta memang hanya sebuah bank menengah. Namun ketika kondisi krisis terjadi tidak ada pengaruh ukuran besar-kecilnya bank karena dampaknya akan memberikan efek domino bagi perekonomian.

Bank Semesta seharusnya sudah ditutup enam tahun ketika Om Liem membeli bank tersebut. Om Liem terlalu ambisius mengembangkan kerajaan bisnisnya. Banyak transaksi yang tak jelas asal muasal terjadi di Bank Semesta. Pengaruh Om Liem tidak bisa digunakan karena musuh-musuh yang senang ia jatuh banyak. Jika Bank Semesta tidak terselamatkan dan dinyatakan bangkrut,seluruh kekayaan Om Liem akan habis.

Satu-satunya yang bisa menolong Om Liem adalah Thomas. Upaya Thomas menyelamatkan Bank Semesta tidak mudah. Ada pihak yang menginginkan Bank Semesta hancur dan pihak tersebut tidak tinggal diam dengan aksi Thomas. Thomas tidak hanya memikirkan strategi yang tepat dan cepat tetapi juga mempertaruhkan nyawanya. Ia hanya punya waktu 2 hari.
Mengapa Thomas membela mati-matian Bank Semesta sementara sepanjang hidupnya ia membenci Om Liem? Jawabannya terletak di masa lalu Thomas. Om Liem adalah saudara kandung dari Papa Thomas. Walaupun begitu hanya beberapa orang saja yang mengetahui hubungan kekeluargaan mereka. Thomas hidup mandiri sejak Papa dan Mamanya meninggal dalam kebakaran rumah mereka. Dan ada dua orang yang secara tidak langsung bertanggung jawab membuatnya menjadi yatim piatu,seorang jaksa dan pejabat kepolisian. Setelah bertahun-tahun,dua orang ini kembali

Thomas menggunakan jaringan dari anggota 'fight club' rahasianya untuk menyelamatkan Bank Semesta. Mereka orang-orang yang menduduki posisi penting dari berbagai profesi. Thomas menagih janji mereka yang pernah berujar akan melakukan apa saja untuknya. Mereka sesama petarung jika berjanji tidak akan mengkhianati. Seperti menonton film action saja,alur ceritanya yang cepat membuat deg-degan dan ngos-ngosan. Pembaca ikut merasakan tegangnya pelarian Thomas dari menggunakan mobil ambulance, yatch,hingga pesawat terbang. Berbagai cara ia lakukan seperti membisiki pejabat sentral, menghadap ibu Menkeu,bertemu 'Putra Mahkota' tentunya akan lebih mudah tanpa menjadi buronan polisi dan dikejar oleh pasukan khusus.

Apakah usaha-usaha Thomas berhasil membuat Bank Semesta selamat?

Ada dua poin yang membuat saya termenung dari novel ini yaitu kekuasaan dan uang. Terkadang manusia tidak ada puasnya sehingga menghalalkan segala cara untuk mendapatkan salah satu atau kedua-duanya. Itulah yang membuat saya terhenti di kalimat perkataan Thomas di awal review ini. Ini nyata terjadi di dunia. Ah ngeri betul. Tapi percayalah manusia yang terlalu rakus akan keduanya cepat atau lambat akan terjerembab dalam keserakahannya sendiri.

Dalam novel ini akan banyak dijumpai teori-teori ekonomi,perbankan,krisis global. Tere Liye menjelaskan dengan perumpaan yang sederhana. Walaupun tidak punya background atau belajar ilmu ekonomi,kasus bank semesta bisa mudah dimengerti. Nah ketika membaca 'Negeri Para Bedebah' ini,saya merasa familiar dan tidak bisa menahan diri untuk tidak memikirkan kasus serupa yang terjadi di dunia nyata. Mirip engga mirip sih.Hehehe :D Contohnya kasus Bank Semesta itu mirip sama Bank-yang-dibail-out-pemerintah-itu. Lalu karakter dari ibu menterinya seperti ibu-ex-menteri-yang-itu. Tokoh ‘Putera Mahkota’ mengacu ke siapa ya? Seperti saya bisa menebaknya. *sotoy* ;) Saya memang suka sekali memirip-miripkan atau memang mungkin ada sebagian kecil yang terinspirasi dari kasus bank-itu.

Yup saya setuju kalimat di belakang cover buku. Di Negeri Para Bedebah kisah fiksi kalah seru dibandingkan kisah nyata.




Wednesday, August 15, 2012

Wishful Wednesday 3


Wah sudah lama sekali engga ikut Wishful Wednesday. Rabu ini kembali ikutan bloghop dari blog mbak Astrid. Wishlist yang ketiga ini adalah Sugar Street & Palace Walk dari Naguib Mahfouz, Sastrawan Mesir. Sekaligus dua buku karena untuk melengkapi Cairo trilogy. Saya hanya mempunyai buku kedua dari Cairo Trilogy yaitu Palace Desire. Waktu iseng-iseng browsing sudah pernah menemukan dua buku tersebut di tobuk online local tapi harganya mahal. (T.T). Keinginan untuk memilikinya ditunda dulu sembari hunting siapa tahu nemu yang lebih murah. :D

Mau ikutan wishful wednesday bisa join lewat sini. :)

Sastra Indonesia Reading Challenge 2012


Kevakuman saya selama 3 bulan mengupdate blog buku ini memang parah. Baru tadi saya blogwalking ke blognya Bang Epi. Saya baru melihat banner ‘Sastra Indonesia Reading Challenge 2012’. Buku-buku sastra Indonesia milik saya memang sudah menghimbau-himbau untuk dibaca. Jadi biar semangat baca,ikutan juga. :D



Saya memilih level Pram yaitu membaca lebih dari 6 karya sastra Indonesia

1. Harimau harimau! – Mochtar Lubis (reread)

2. Senja di Jakarta – Mochtar Lubis (reread)

3. Jejak Langkah – Pramoedya Ananta Toer

4. Kumcer Teluk Wengkay – Korrie Layun Rampan

5. Padang Bulan – Andrea Hirata

6. Rahasia Selma – Linda Christanty


Mungkin judul bukunya berubah seiring waktu. Saat ini yang mau dibaca itu dulu. :) Yuk ikutan membaca Sastra Indonesia. Gabung ke Sastra Indonesia Reading Challenge 2012

Fiksi Lotus (Vol. 1)

Fiksi Lotus (Vol. 1)Fiksi Lotus by Ernest Hemingway


My rating: 4 of 5 stars


Fiksi Lotus Volume 1 mengumpulkan 14 cerita pendek dari sastrawan-sastrawan dunia. Hanya beberapa dari nama-nama tersebut yang sudah baca karyanya seperti Naguib Mahfouz, Ernest Hemingway, Anton Chekhov. Nama-nama yang lain hanya sebatas tahu saja seperti Franz Kafka, Jean Paul Satre, W. Somerset Maugham, dan Bjornstjerne Bjornson. Sisanya saya tidak mengenal nama-nama pengarang tersebut apalagi membaca karya mereka.

Cerpen yang sukses menghibur saya tergantung tema,gaya penulisan dan ending dari ceritanya. Ada tiga reaksi yang biasanya saya rasakan ketika selesai membaca cerpen. Pertama, Ouch! serasa tertohok dengan ending yang tidak terduga atau merasakan 'sesuatu' dari cerita tersebut. Kedua, Errrr..cuma gitu aja? Jika ceritanya terasa flat bagi saya. Dan ketiga, Mmmm…kemudian hening lalu kening berkerut alias tidak mengerti.

Ada tiga cerpen yang membuat yang saya sukai. Menunggu Fajar – Jean Paul Satre. Tiga tahanan yang dijatuhi hukuman mati. Ketiganya menunggu waktu eksekusi. Entah mengapa ketika membaca cerita ini membuat saya terngiang-ngiang lagunya ‘Peterpan –Menunggu Pagi’ : Apa yang terjadi dengan Hatiku/Kumasih disini menunggu pagi/Seakan letih tak menggangguku/Ku masih terjaga menunggu pagi. Dering Telepon – Dorothy Parker. Memang menunggu dering telepon yang tak kunjung datang dari lelaki yang disukai membuat uring-uringan. Ingin menghubungi lebih dahulu tapi tersangkut harga diri sebagai wanita, 'Masa sih aku duluan'. Pikiran macam-macam langsung menghampiri. 'Aku tidak mengerti mengapa pria bisa menelantarkan begitu mereka berhasil membuat wanita jatuh cinta terhadap mereka. Bukankah ini yang mereka cari?' Ouch! Saya berasa dejavu deh. :D Republick – Naguib Mahfouz. Keren! Salah satu sastrawan dunia favoritku. Ceritanya patut direnungi lebih dalam. Selain itu masih ada cerpen-cerpen lain yang menggigit: Menembus Batas – Saki, Charles - Shirley Jackson, Pemberian si Magi - O.Henry, Sang Ayah - Bjornstjerne Bjornson

Bagi saya cerpen yang termasuk kategori kedua,ya biasa-biasa aja, yaitu Teka-teki - Walter De La Mare, Kalung Mutiara – W. Somerset Maughan, Dilema Sang Komandan – Stephen Crane, Persinggahan Malam - Ernest Hemingway, Gegap Gempita - Anton Checkhov. Dan satu-satunya cerpen yang saya tidak mengerti adalah Pesan Sang Kaisar – Franz Kafka. Cerpennya paling singkat dibandingkan lainnya,hanya 3 halaman. Waktu pertama baca,saya belum menangkap cerita “Ha,udah selesai?”. Saya membolak-balikkan halaman dan mengulangi membacanya. *kening berkerut* Mmmm..tetap tidak mengerti. xD

Suka atau tidak suka hal bersifat subjektif,dikembalikan lagi ke masing-masing pembaca. Untuk memperluas wawasan tentang sastra dunia,Fiksi Lotus memberikan referensi yang cukup bagus karena tidak banyak karya-karya dari penulis yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.