Pages

Wednesday, June 12, 2013

Wishful Wednesday 7



Hai Rabu! Saya kembali menuliskan wishlist di event wishful wednesday blog Perpus Kecil. Wishlist yang ketujuh ini adalah buku puisi 'Hujan Bulan Juni' dari Sapardi Djoko Damono. Saya tidak terlalu sering membaca buku puisi. Namun puisi dari Pak Sapardi seperti terngiang-ngiang di telinga dan sering terlintas di pikiran saya. Ya puisi yang berjudul 'Aku Ingin' ini sangat dahsyat buat saya. 

AKU INGIN
aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
--- Sapardi Djoko Damono, 1989

Jika ingin mengikuti event Wishful Wednesday bisa langsung ke blognya Mbak Astrid ya.

Sunday, June 2, 2013

Persiden


Judul : Persiden
Penulis : Wisran Hadi
Penerbit : Bentang Pustaka
Tahun Terbit : 2013

Novel ini menceritakan kisah keluarga besar yang mempunyai rumah pusaka keluarga yang dikenal masyarakat sekitar dengan nama ‘rumah bagonjong’. Ayah Bung, Pa Tandang adalah anak laki-laki tertua. Ia mempunyai tiga saudara laki-laki dan satu saudara perempuan yaitu Pa Mieki, Pa Ragih, Pa Rarau dan Cik Inan.  Dalam kakak beradik jika saling silang pendapat mungkin biasa terjadi. Hubungan Pa Tandang dan adik-adiknya mengalami pasang surut terutama menyangkut soal rumah bagonjong, yang sertifikatnya digadaikan oleh Cik Inan tanpa memberitahu saudara laki-lakinya. Suami Cik Inan, Pa Lendo, sebagai semenda dinilai terlalu ikut campur urusan kakak beradik. Komunikasi di antara mereka terputus sampai-sampai tidak mau bertegur sapa.

Malati, anak perempuan Cik Inan, kembang desa Paratingga digosipkan hamil di luar nikah oleh guru mengajinya. Desas desus tersebut akhirnya sampai ke telinga Pa Tandang. Ia hanya mengetahui bahwa keponakannya dipindahkan sekolah ke Yogyakarta. Berita tersebut bagaikan petir di siang bolong. Malati telah mencoreng nama baik rumah bagonjong. Apalagi mamak-mamaknya bukan orang sembarangan. Cik Inan dan Pa Lendo tidak mau berterus terang mengenai Malati. Dari saudara jauh Pa Tandang diketahui bahwa Malati sudah menikah dan melahirkan anak, namun anak tersebut diasuh oleh Ibu dari suaminya. Malati dipisahkan dari suaminya dan baru boleh bertemu setelah lulus kuliah sementara suaminya masih melanjutkan kuliah.

Dari masalah Malati berkembang menjadi besar ke harta warisan, kewibawaan kaum, kepemimpinan suku, masa lalu rumah bagonjong dan hal-hal berbau mistis. Salah satu nenek dari rumah bagonjong ‘Sampiran’ mendatangi Pa Mikie secara gaib, ia berkata kondisi rumah bagojong sekarang akibat termakan sumpahnya dahulu. Konon Sampiran adalah saudara perempuan dari ibu mereka yang tidak diakui karena hamil di luar nikah dan dibuang dari ke daerah Lubuk. Suami dari Malati masih keturunan dari Sampiran. Artinya mereka masih satu suku. Pa Mikie mendesak Pa Tandang dan Pa Rarau untuk mencari anak Malati. Biar mereka yang mengasuhnya karena bagaimanapun anak Malati adalah penerus dari kaum mereka.   

Penulis menyebut ‘Bung’ seakan-akan sedang berkomunikasi dengan pembaca. Novel Persiden mengemukakan pergeseran nilai, silang pendapat kaum tua dan anak muda, kepatuhan pada adat dan kaitannya dengan dunia modern sekarang. Dalam adat istiadat Minang terdapat pepatah ‘Anak dipangku, Keponakan dibimbing’. Sistem matrilineal dalam minangkabau menurunkan suku dari keturunan garis ibu dan perempuan. Ketika masalah menimpa Malati, anak perempuan Cik Inan, menyeruak tidak hanya menjadi masalah orangtua nya saja. Pa Tandang, Pa Mieki, Pa Ragih, Pa Rarau sebagai mamak-mamak dari Malati juga mendapat sorotan. Bagaimana sih ninik mamak kok tidak tahu menahu kalau keponakannya sudah menikah? Apalagi kalau keadaan wanitanya sudah ‘berisi’ duluan.

Terlepas dari pencarian Malati, Suami Malati dan Anaknya, pokok ceritanya mempertanyakan sikap dan kedudukan ninik mamak dalam dunia yang sudah berubah dan berkembang. Seringkali dalam penyelesaian adat istiadat masing-masing pihak mementingkan ego masing-masing. Semisal tanah-tanah pusaka keluarga sudah dijual digantikan dengan perbelanjaan, ruko atau perumahan. Sehingga persoalan Malati ini lebih banyak dilihat dari sisi pemikiran mamak-mamaknya. Bagaimana perasaan Malati sendiri yang dipisahkan dari anaknya setelah melahirkan hanya sedikit disinggung.

Terkadang penulis tidak hanya menyoroti masalah yang melingkupi cerita keluarga rumah bagonjong, tetapi juga menyindir hal yang lain-lain yang membuat cerita jadi melebar. Saya juga menangkap sindiran halus dari penamaan tokoh-tokohnya.

Saat saya melihat buku ini yang terpikir adalah judulnya yang aneh. Seperti plesetan dari kata presiden. Lalu saya mengenali nama penulis, Wisran Hadi, yang merupakan sastrawan dari ranah Minang. Aha! Saya sudah lama ingin membaca karya beliau namun belum jodoh sama karya-karyanya. Covernya unik. Gambar rumah gadang yang didorong alat berat. Kiasan yang tepat untuk menyiratkan terjadinya pergeseran nilai-nilai adat dan budaya Minangkabau di dalam cerita.

Setelah membaca novel ini tertinggal sebuah kalimat di dalam pikiran saya.

“Apa kau benar-benar mau jadi orang modern dengan meninggalkan segala yang ada dalàm adat dan budaya?”

Tentang penulis :

Wisran Hadi adalah sastrawan/budayawan Indonesia yang lahir dan dibesarkan di ranah Minang, Sumatera Barat. Wisran pernah menulis kumpulan naskah drama berjudul Empat Orang Melayu berisi empat naskah drama: ”Senandung Semenanjung”, ”Dara Jingga”, ”Gading Cempaka”, dan ”Cindua Mato”. Novelnya yang pernah dibukukan antara lain berjudul Tamu, Imam, Empat Sandiwara Orang Melayu, dan Simpang. Novel Persiden ini termasuk dalam novel unggulan sayembara Dewan Kesenian Jakarta tahun 2010. Wisran Hadi tutup usia pada bulan Juni 2011.


Referensi ; 

Tuesday, May 21, 2013

Kuda Terbang Maria Pinto




Kuda Terbang Maria Pinto by Linda Christanty

My rating: 5 of 5 stars





‘Negeri ini negeri bisu. Tiada suara percakapan, selain kepak sayap para penghuni. Mereka terus bekerja, tiada melihat makhluk asing yang datang. Di atas kuntum bunga terbesar,ia melihat perempuan itu duduk dengan mahkota berkilau, sendirian’ - Qirzar

Ada lelaki tua yang merayakan ulang tahun yang sekian dalam 'Perayaan Terakhir'. 'Joao',kisah anak yg bru brumur 14 tahun bergabung dgn pasukan gerilyawan. 'Lelaki beraroma kebun' menceritakan anak rantau yang pulang ke kampung halamannya, pulau penghasil Timah.

‘Perang membuat orang memilih menjadi siapa saja atau apa saja. Tak peduli menjadi pelacur atau nyonya. Bagiku keduanya bisa sama-sama terhormat atau sama-sama sial’- Perang

Dalam 'Makan Malam', pertemuan Ibu dan Ayah yang terpisah 30 tahun karena gejolak politik memberikan rasa asing bagi anak yang tidak mengenal kasih sayang seorang ayah. Seorang waria mendambakan kasih sayang sejati Pria dalam 'Balada Hari Hujan'.
‘Ibu, kalau rasa kemanusiaan saya terpanggil melihat nasib orang-orang yang tidak layak hidupnya. Apa saya harus memasung rasa kemanusiaan saya? Saya nggak bisa berdiam diri, Bu. Doa..Doa.. Ibu suruh saya berdoa. Doa saja nggak cukup. Kita ‘kan nggak bisa menunggu Tuhan menjinakkan bom’ - Rumput Liar
Dalam 'Lubang Hitam',kita membaca kisah Tina dan saudara perempuannya yang mengidap Skizofrenia. Anak perempuan satu-satunya meninggalkan keluarga untuk melawan kaisar yang lalim dalam 'Makam Keempat'.

‘Kubayangkan sungai darah mengalir membelah kota ini, mayat-mayat mengapung, dan masa mudaku tercerabut bagai nyawa ayam lepas, melesat ke awan-awan, bukan surga yang dijanjikan dan apa yang tinggal dari kehidupan hanya debu belaka’ - Danau

Kumpulan cerpen pertama dari Linda Christanty yang terdiri dari dua belas cerita yaitu Kuda Terbang Maria Pinto, Makan Malam, Pesta Terakhir, Lubang Hitam, Balada Hari Hujan, Danau, Lelaki Beraroma kebun, Perang, Joao, Qirzar, Rumput Liar dan Makam Keempat. Judul kumcer diambil dari cerpen pertama yaitu Kuda Terbang Maria Pinto. Linda Christanty menuliskan penindasan, kehampaan, kehilangan, suasana politik, perang dan perlawanan dalam diksi yang menghanyutkan. Sekalipun penulis tidak secara eksplisit menuliskan lokasi atau latar belakang, pembaca bisa mengetahui peristiwa-peristiwa yang terkait dengan cerita tersebut. Cerita-ceritanya terkesan suram dan kelam tapi saya menyukai sepuluh dari dua belas cerpennya. Jika dibandingkan dengan kumcer Linda Christanty yang lainnya yaitu 'Rahasia Selma' dan 'Seekor Anjing Mati di Bala Marghab', saya lebih menyukai kumcer ini.

Monday, May 6, 2013

Rapid Fire Question about Books!


Baru liat link dari Tika (Edensordreamer), Meme tentang buku dijawab dengan cepat . Update-an sebagian besar anggota BBI tentang meme ini. Ikutan ah buat seru-seruan,hihihi. (^-^)

1. nambah atau ngurangin timbunan?
Niat = ngurangin timbunan. Kenyataan : timbunan bertambah

 2. pinjam atau beli buku?
Sekarang lebih banyak beli buku, sekali-kali pinjam buku dari perpus Erasmus Huis

3. baca buku atau nonton film?
Dua-duanya suka. Tapi enakan baca buku,engga terlalu banyak biaya. hehehe

4. beli buku online atau offline? (tobuk yg temboknya bisa disentuh)
Offline, muter-muter di toko buku. Online buat buku-buku yang susah didapat.

5. (penting) buku bajakan atau ori?
Ori! #sikap

6. gratisan atau diskonan?
Gratisan boleh, diskonan boleh. *maunyaa*

7. beli pre-order atau menanti dgn sabar?
Tergantung lagi bokek apa engga. Klo lagi punya duit, pre order. Klo engga, menunggu dengan sabar.

8. buku asing (terjemahan) atau lokal?
Lokal, terutama buku sastra Indonesia.

9. pembatas buku penting atau biasa aja?
Biasa aja, masih mengandalkan ingatan sampai dimana bacaan.

10. bookmark atau bungkus chiki?
Bookmar.

Pertanyaan tambahan dari Tika :

1. Gaya favorit: baca buku sambil telentang, tengkurep, apa duduk?
Baca buku sambil telentang. Hehehe

2. Di kamar mandi: baca buku apa bengong?
Bengong. Engga pernah baca buku di kamar mandi. Takut kebasahan.

3. Beli buku bekas atau baru?
Dua-duanya suka beli. Kalau hunting, lebih suka ngulik-ngulik buku-buku lama

4. Cerita hantu atau detektif?
Detektif, anti cerita hantu-hatuan..

5. Komik Jepang, Amrik, atau Eropa?
Komik Jepang, kalau baca komik lebih suka minjem. Cuman Hi Miiko aja yang suka dikoleksi.

Pertanyaan tambahan dari aku untuk 5 'korban' berikutnya: Bang Helvry, Mas Ijul, Mbak Dani, Mbak Ferina, Mbak Dessy. hehehe ..
1.       Baca buku atau ebook ?
2.       Buku-ke-film atau Film-ke-buku ?
3.       Cover asli atau cover film adaptasi ?
4.       Harry potter atau Twilight ?
5.       Suka baca di perjalanan ga?

Saturday, April 27, 2013

Pemenang BBI 2nd Anniversary Giveaway Hop



Pengumuman.. Pengumuman.. 




Yeay !! Hari ini 27 April waktunya pengumuman pemenang dari BBI 2nd Anniversary Giveaway Bloghop. Terima kasih buat teman-teman yang telah mengikuti book giveaway dari saya. Saya senang sekali dengan antusiasme teman-teman terhadap buku-buku yang akan saya berikan. Kalian membuat saya optimis bahwa sastra Indonesia masih memiliki banyak peminat.

Sebelum saya umumkan saya mau minta maaf dulu buat pemenang giveaway karena mungkin saya baru bisa mengirimkan hadiah buku seminggu lagi setelah saya kembali dari luar kota. Tapi berita bagusnya saya akan memberikan ketiga buku untuk TIGA pemenang. Alhamdulillah *thanks to my lovely office*, Doakan rezeki saya lancar supaya sering-sering bikin book giveaway lagi. Hehehe.


Pulang - Leila S Chudori : 
Tika - @ Radmalia



Amba - Laksmi Pamuntjak :
Yuni Ayu Amida - @yuniayuamida 



Bumi Manusia - Pramoedya Ananta Toer :
Cecilia Amanda

Masing-masing pemenang akan saya hubungi lewat twitter/email,pemenang harap merespon dalam waktu 3 x 24 jam jika melewati waktu tersebut saya akan menentukan pemenang lainnya. Buat yang belum menang, jangan sedih ya siapa tahu kesempatan untuk memiliki buku-buku ini sebentar lagi akan datang. Sering-sering aja blogwalking ke blogbukuindonesia.com karena anggota BBI sering mengadakan book giveaway *promosi*. Hehehe..

Have a nice weekend! Keep reading & sharing :)

Thursday, April 25, 2013

Close Up Interview Anggota Blogger Buku Indonesia : Ferina Permatasari



Masih dalam rangkaian BBI 2nd Anniversary, kali ini saya akan mengikuti Close Up Interview untuk lebih mengenal teman-teman BBI. Saya menjadi interviewer dari seorang anggota BBI dan sebaliknya di wawancara juga oleh teman BBI lainnya. Dalam program Close Up Interview saya mendapat kesempatan mengenal lebih dekat dengan Mbak Ferina Permatasari, pemilik blog buku Lemari Bukuku. Saya pernah bertemu sekali dengan Mbak Ferina waktu kopdar di Solaria Plaza Semanggi. Sementara yang melakukan interview dengan saya yaitu Melisa - surgabukuku.


                                                   
"bersembunyi di balik timbunan"
(Mbak Ferina dengan buku-bukunya di kantor. hihihi)

Tentang Membaca

Mbak Ferina menyukai membaca sedari kecil. Orang tua berperan besar mengenalkan Mbak Ferina dengan buku. Mbak Ferina dulunya sering diajak jalan-jalan ke toko buku dan pameran buku. Meskipun orang tua Mbak Ferina bukan ‘pembaca akut’ seperti dirinya, kebiasaan itulah yang melekat sampai sekarang. Sewaktu SMP atau SMA, kebiasaan membaca sempat terhenti karena Mbak Ferina lebih senang koleksi kaset daripada buku. Bahkan koleksi dari Lima Sekawan, Malory Towers, St. Claire pernah dihibahkan kepada saudara yang mau membuka usaha penyewaan buku. Kalau mengingat hal tersebut menyesal juga Mbak Ferina. Baru lah ketika kuliah, Mbak Ferina mulai lagi koleksi buku. Kali ini selera sudah bergeser ke buku karangan Danielle Steel.

Berbicara buku yang berkesan buat Mbak Ferina adalah karya-karya Enid Blyton. Lima Sekawan, Malory Towers, St. Claire atau si Badung, cukup mewakili imajinasi Mbak Ferinaina ketika awal suka membaca. Enid Bylton juga termasuk penulis favorit Mbak Ferina. Penulis favorit lainnya adalah Road Dahl. Selain itu dari dulu, Mbak Ferina juga suka sama dengan kartun Smurf dan Asterix bahkan sampai sekarang. Hihihi. Dia berharap Smurf atau Asterix dan teman-temannya itu memang ada. Atau, 10 orang Negro-nya Agatha Christie yang sukses bikin Mbak Ferina stress pas pertama kali baca. Adakalanya, setiap Mbak Ferina membaca buku yang bagus, si penulis langsung menjadi penulis favorit seperti Leila S. Chudori, John Green, Chitra Banarjee Divakaruni atau Haruki Murakami yang walaupun agak aneh. Hehehe.

Toko buku,tempat yang paling menarik di mata pencinta baca seperti saya dan Mbak Ferina. Toko buku favorit Mbak Ferina adalah Gramedia dan Kinokuniya. Saya penasaran seberapa sering Mbak Ferina mengunjungi toko buku? Jawabannya : setiap hari! Sambil menunggu jemputan, Mbak Ferina sering mondar-mandir di toko buku Gramedia Plaza Semanggi. Maklum kantor Mbak Ferina tidak jauh dari Plaza Semanggi. Hehehe. Tapi tidak selalu beli buku,lihat-lihat saja alias ‘book-window shopping’ (istilah saya buat cuci mata di toko buku). Kadang buku yang sudah dipegang-pegang terus dibawa keliling Gramedia akhirnya ditaruh lagi ketika mau keluar toko karena memang tidak niat beli. Hehehe. Mbak Ferina mengaku tidak punya budget khusus untuk belanja buku. Niatnya sih menyiapkan dana ‘sekian’ untuk beli buku ternyata itu tak termasuk yang membeli online secara dadakan atau PO buku. Untuk beli buku secara online masih jarang dilakukan Mbak Ferina karena lebih puas secara langsung. Kalaupun beli buku online biasanya di situs inibuku.com

Adakah buku yang bagi Mbak Ferina penuh perjuangan atau susah untuk mendapatkannya? Rasanya belum ada karena kalau Mbak Ferina menginginkan buku tidak ‘muluk-muluk’. Jadinya, ya yang terjangkau saja, entah itu dari harga atau ‘keberadaan’ buku itu. Tidak dipungkiri kemajuan teknologi dewasa ini mempengaruhi pembaca dengan kehadiran ebook. Ada berbagai merek aplikasi dan perangkat tablet untuk membaca ebook. Namun Mbak Ferina termasuk yang tetap lebih menyukai baca buku karena mata tidak terlalu capek dan masih senang ‘memandang’ buku di rak sungguhan daripada rak virtual.

Tentang Blog Buku dan BBI

Setelah mengulik-ulik tentang kegiatan membaca dari Mbak Ferina, mari kita membedah blog bukunya sekarang ‘Lemari Bukuku’. Awalnya membuat blog khusus review buku, Mbak Ferina terinspirasi dari Rahib Tanzil (Rahibnya BBI) yang menulis review bukunya di milis pasarbuku. Mbak Ferina pun mengikuti jejak Rahib menulis review buku walaupun pada mulanya masih tercampur di blog pribadi yang lain. Tapi karena lama-lama kebanyakan menulis tentang buku, Mbak Ferina berpikir mengapa tidak membuat blog khusus buku saja dan ternyata sekarang justru blog buku ini yang lebih aktif dibanding blog yang lain.

Sebelum bergabung di komunitas Blogger Buku Indonesia (BBI), Mbak Ferina pernah ikut ‘kubugil’ singkatan dari Kutu Buku Gila. Di kubugil ini sih, hehehe.. kebanyakan becandanya kadang-kadang tetapi pernah bikin program baca bareng juga dan sempat bikin acara bincang-bincang. Mbak Ferina bergabung dengan BBI diajak sama Nophie. Sebelumnya memang juga sudah kenal sama sebagian anak-anak BBI yang duluan bergabung. Pengalaman berkesan selama menjadi anggota BBI yang pasti kenal banyak teman-teman baru. Dan serunya, kita tidak hanya membahas buku – bisa ngomongin makanan, bola atau ngalor-ngidul becanda-becanda. “Yang bikin aku betah di BBI karena aku merasa ‘diterima’, meskipun pertama kali kopdar, aku gak dicuekin, dan gak ada yang ‘mencela’ jenis buku apa pun yang aku baca”,tulis Mbak Ferina. Terus, mengikuti BBI juga menambah wawasan bacaan Mbak Ferina yang suka ‘iri’ kalau ada yang mempunyai buku keren yang ada di wishlist dia.

Saya termasuk ‘pengikut’ blog buku Lemari Buku. Jadi setiap update review pasti langsung saya ketahui dari dashboard blogger. Dan blog dari Mbak Ferina rajin mengupdate review bukunya hampir tiap minggu tidak terlewat. Apa sih tips dan tricknya, Mbak Ferina ? Biar tidak keburu lupa, setiap selesai baca sebisa mungkin langsung ditulis review-nya. Karena kalau kelamaan, biasanya jadi suka males update blog dan lupa sama apa yang mau ditulis. Menurut Mbak Ferina yang paling susah itu nulis review buku yang ternyata tidak ‘berkesan’ atau justru buku yang dibilang bagus sama banyak orang. *setujuu, Mbak*.

Harapan Mbak Ferina buat BBI kedepannya semoga semakin solid, bisa membuat kegiatan sendiri yang tidak hanya via online seperti baca bareng tapi juga secara off air dan satu lagi, semoga bisa bikin kopdar akbar J Yuk Kopdar yuk...

Terima kasih untuk Mbak Ferina atas kesediaan waktunya menjawab pertanyaan-pertanyaan dari saya. Hihihi. Terima kasih juga untuk teman-teman BBI khususnya divisi event yang menyelenggarakan program seru seperti CIU untuk mendekatkan anggota BBI. Semoga anggota-anggota BBI semakin akrab dan kompak. Keep reading and sharing! :)

Akun twitter Mbak Ferina : @f3r1n4
Blog buku Lemari Bukuku : http://lemari-buku-ku.blogspot.com/

Friday, April 19, 2013

Mata Kunci





Mata Kunci by Hella S Haasse

My rating: 3 of 5 stars


Herma Tadema menggali ingatan masa tuanya tentang Mila Wychinska untuk penelitian seorang wartawan yang bernama Bart Moorland. Semua kenangan yang masa lalunya di tanah Hindia tersimpan dalam peti kayu eboni. Nyonya Warner,demikian panggilan Herma setelah menikah,tidak menemukan kunci dari peti kayu tersebut. Nyonya Warner mulai menuliskan apa yang ia ingat tentang teman masa kecilnya itu.

Mila Wychinska atau Adele Mijers (Dee) berasal dari keluarga tuan tanah yang berdarah campuran Indo dari pihak ayah dan polandia dari pihak ibu. Sejak kecil Dee diasuh oleh nenek dan bibinya, Aimee Mijers yang akrab dipanggil Non. Non agak berbeda dengan ayah Dee ataupun Nyonya Mijers, kulitnya lebih gelap dan penampilannya lebih mirip pribumi. Ayah Dee bersahabat dengan Ayah Herma dan anak-anak mereka sering bermain bersama. Ibu Herma berasal dari keluarga Belanda yang sudah menetap di Batavia.

Ketika remaja Dee sudah mulai menunjukkan sikap kritis nya terhadap eksklusivitas masyarakat kolonial. Walaupun Dee mempunyai darah eropa, ia tetap dipandang sebelah mata. Hal yang sama yang dijumpai oleh neneknya, Nyonya Meijers. Dee berpendapat rencana Pieter Erberveld untuk menguasai pemerintahan kota Batavia dan mengangkat pribumi sebagai kepala penduduk adalah rencana bagus. Pieter Erberveld juga seorang blasteran.

Dee berubah. Itu yang dirasakan Herma atas sikap teman masa kecilnya. "Kamu tidak tahu apa-apa, kamu berkulit putih! Seandainya kamu punya kakak lelaki,kamu pikir dia boleh menikah dengan aku atau orang tuamu akan memperbolehkan kamu bersahabat dengan anak laki-laki Indo?". Semenjak Dee berteman dengan gadis pribumi Sulawati Saleh, persahabatan antara Herma dan Dee renggang. Dee memilih tidak melanjutkan pendidikannya ke universitas. Ia mencibir universitas yang dinilainya sebagai lembaga 'elite', dimana orang totok intelektual disiapkan untuk pekerjaan top di Hindia.

Pendudukan Jepang terhadap Hindia Belanda berdampak pada masing-masing keluarga Herma dan Dee. Keluarga mereka tercerai berai. Herma kehilangan ibunya. Nyonya Meijers masuk ke kamp interniran Jepang. Dee mengganti namanya menjadi Mila Wychinska,memakai nama keluarga Polandia dari pihak ibunya. Non yang kulitnya serupa dengan pribumi lolos dari interniran. Herma menikah dengan Taco Tadema dan pindah ke negeri Belanda,tanah leluhurnya. Hubungan dengan Dee nyaris nihil komunikasi. Kisah hidup Dee dituliskan dari sudut pandang Herma.

Dalam Mata Kunci, sikap diskriminasi tidak hanya dialami oleh pribumi. Orang-orang yang berdarah campuran menjadi orang kelas dua. Lebih tinggi kedudukannya dari pribumi tetapi tidak akan menyamai orang Belanda 'Totok'. Namun apakah sifat Belanda 'Totok' semuanya superior? Tidak semua,karakter Herma dan Ibu nya mewakili orang Belanda asli yang tidak merasa 'totok' dan tidak arogan. Ibu Herma mengatur pekerjaan sehari-hari para pelayan dalam suasana santai. Berbeda dengan Nyonya Mijers yang Indo malah mempunyai ritual para pembantu menghadap satu persatu sesuai dgn kedudukan mereka untuk menerima perintah.

Hella S Haasse

Hella S Haasse adalah penulis fiksi sejarah dari negeri Belanda yang lahir di Batavia. Ia sering menulis mengenai kehidupan masa kolonial Belanda di Hindia. Mata Kunci adalah karya Hella S Haasse kedua yang saya baca. Saya berkenalan dengan karyanya yang berjudul 'Oeroeg'. Jika tertarik dengan sastra indies, karya-karya dari Hella S Haasse ini bisa dijadikan bacaan referensi. Setahu saya baru ada dua karya nya yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, Oeroeg dan Mata Kunci. Semoga karya-karya Hella S Haase lainnya menyusul diterbitkan dalam bahasa Indonesia terutama yang mengambil setting kehidupan kolonial hindia Belanda.

Thursday, April 18, 2013

BBI 2nd Anniversary Giveaway Hop




Selamat ulang tahun Bebiiii :* 
*haduhh maap ya telat*


Untuk memeriahkan ulang tahun BBI yang kedua,saya mengadakan BOOK GIVEAWAY!! Tidak hanya blog buku saya saja lho, anggota-anggota BBI lainnya juga mengadakan giveaway secara serentak. Yeaay! kapan lagi kan berburu buku-buku keren hanya di BBI 2nd Anniversary Giveaway Hop.

Hadiah Giveaway adalah satu buku dari ketiga buku di bawah ini  :


Mau novel Pulang - Leila S Chudori ? atau novel Amba - Laksmi Pamuntjak? atau masterpiece dari Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia?

Yuk ikutan.. Caranya mudah, sebutkan judul buku yang kamu inginkan beserta alasannya di kolom komentar.  Jawaban yang menurutku menarik akan mendapatkan buku pilihannya. Setiap komentar harus mempunyai identitas ya berupa alamat email/twitter. :)

Pemenang diumumkan pada tanggal 27 April 2013 dan akan saya hubungi via email/twitter. Good Luck !


Kamu juga bisa ikut giveaway dari anggota BBI lainnya di link sebagai berikut :

Friday, April 12, 2013

Negeri di Ujung Tanduk





Negeri di Ujung Tanduk by Tere Liye


Apakah ada di dunia ini seorang politikus dengan hati mulia dan niat lurus? Apakah masih ada seorang Gandhi? Seorang Nelson Mandela? Yang berteriak tentang moralitas di depan banyak orang,lantas semua orang berdiri rapat di belakangnya, rela mati mendukung semua prinsip itu terwujud? Apakah masih ada?

Satu tahun telah terlewati semenjak Bank Semesta diambil alih oleh pemerintah. Kantor konsultasi keuangan milik Thomas melebarkan sayapnya ke dunia politik. Dalam waktu 6 bulan saja, Thomas berhasil memenangi dua pemilihan gubernur. Semakin Klien Thomas , JD , akan bertarung menjadi calon presiden di sebuah konvensi partai politik. JD mempunyai catatan bersih dari track recordnya sebagai walikota dan gubernur. JD dikenal Sosok yang sederhana dan humble dengan rakyat. Ia mempunyai kesungguhan untuk menegakkan hukum di Indonesia. Sehari menjelang konvensi partai, JD ditangkap polisi berkaitan dengan kasus korupsi pembuatan mega tunnel ibukota. Nampaknya ada pihak-pihak yang menghalangi langkah JD untuk menjadi capres.

Sebagai konsultan politik dan orang kepercayaan dari JD, Thomas tak luput dari sasaran ‘musuh’. Thomas yang sedang berada di Hongkong difitnah dengan penemuan heroin sebesar 100 kg dan puluhan senjata di kapal pesiarnya. Bagaimana Thomas menyelamatkan kliennya,JD? Thomas mempunyai kartu As yang bisa menyelamatkan JD. Ada jaringan atau mekanisme yang tidak terlihat yang mengerogoti hukum yang disebut mafia hukum yang ada dari level paling rendah hingga paling tinggi. Thomas berpacu dengan waktu untuk ‘menangkap’ siapa dalang semua ini.
Dari segi cerita,saya seakan dejavu dengan aksi Thomas di ‘Negeri Para Bedebah’ hanya saja ‘Negeri di Ujung Tanduk’ lebih banyak mengulas intrik-intrik dunia politik dan hukum. Ada beberapa adegan cerita di buku sebelumnya kembali diceritakan. Lagi-lagi petualangan Thomas ditemani oleh wartawati cantik,kali ini seseorang yang bernama Maryam dari majalah mingguan politik. Aksi kejar-kejaran, baku hantam, dan penyelamatan menit-menit terakhir Thomas ikut menaikkan adrenaline pembaca. Bab-bab dari Negeri di Ujung Tanduk yang lebih tipis membuat saya bertanya-tanya apakah Tere Liye mengejar deadline atau momen yang pas dengan situasi Indonesia saat ini. Karena seperti yang kita tahun tahun 2013 suhu politik Indonesia semakin memanas menuju pemilihan umum presiden tahun 2014.

Saya mungkin agak kecewa dengan kisah lanjutan Thomas tapi yang membuat saya merenung adalah kisah sederhana yang diceritakan berkali-kali oleh Opa kepada Thomas. Kisah mengenai perahu nelayan yang bocor ketika Opa meninggalkan cina daratan dan tiba di Indonesia.

Saya ringkaskan sebagai berikut :

Kisah perahu bocor Opa. Opa terjaga selama tiga hari tiga malam di kapal nelayan yg bocor. Meninggalkan tanah kelahiran karena perang saudara dan wabah penyakit. Hanya membawa pakaian di badan, menumpang kapal nelayan,berlayar meninggalkan daratan China,mengungsi ke mana arah angin laut membawa. Dalam perjalanan itu Opa berkawan karib dengan Chai Ten,yang sama-sama mengungsi. Lepas dari laut china selatan, Chai Ten dan setengah penumpang nelayan jatuh sakit. Banyak yang tidak bertahan hingga mayat-mayatnya dilempar ke laut tanpa penghormatan yang layak. Di minggu kedua perjalanan, kondisi Chai Ten semakin parah. Dia demam, menggigil,dan muntah. Tubuhnya meringkuk di sudut palka. Tidak ada yang peduli, tidak ada yang mau memberikan pertolongan karena semua orang sibuk dengan masalahnya sendiri. Opa yang merawat Chai Ten. Mencarikan selimut dari karung goni, memberikan jatah makanan,memberi air tawar dari hujan turun, meramu obat semampunya dari sisa-sisa logistik kapal nelayan. Menemani siang dan malam, menghiburnya, memberikan semangat kami berdua akan melalui hari-hari sulit dan tiba di negeri yang lebih baik. Chai Ten bertahan seminggu kemudian dan ia turun di singapura memutuskan mencari peruntungan disana. Opa terus berlayar hingga tiba di surabaya. Berpuluh-puluh tahun dari peristiwa tersebut tidak ada yang menyangka tindakan tersebut akan membuat perbedaan yang besar di masa depan.

Wednesday, February 6, 2013

Wishful Wednesday 6




Wishlist minggu ini adalah Titik Nol karya Agustinus Wibowo.

SINOPSIS

Perjalananku bukan perjalananmu
Perjalananku adalah perjalananmu
Jauh. Mengapa setiap orang terobsesi oleh kata itu? Marco Polo melintasi perjalanan panjang dari Venesia hingga negeri Mongol. Para pengelana lautan mengarungi samudra luas. Para pendaki menyabung nyawa menaklukkan puncak.
Juga terpukau pesona kata “jauh”, si musafir menceburkan diri dalam sebuah perjalanan akbar keliling dunia. Menyelundup ke tanah terlarang di Himalaya, mendiami Kashmir yang misterius, hingga menjadi saksi kemelut perang dan pembantaian. Dimulai dari sebuah mimpi, ini adalah perjuangan untuk mencari sebuah makna.

Hingga akhirnya setelah mengelana begitu jauh, si musafir pulang, bersujud di samping ranjang ibunya. Dan justru dari ibunya yang tidak pernah ke mana-mana itulah, dia menemukan satu demi satu makna perjalanan yang selama ini terabaikan.




Dua buku pertama, Selimut Debu dan Garis Batas sudah saya baca. Keren banget! Saya menanti-nantikan tulisan perjalanan Agustinus Wibowo ini. Dari situs gramedia.com diberitahukan Titik Nol terbit 7 Februari 2013. Sebenarnya dari kemarin pas tahu Titik Nol mau terbit mau pesan pre-order tapi harganya mahal. Hiiiiiks :'( Adakah toko buku yang memberikan diskon lebih dari 20% ? Oke baiklah,saya menabung dulu ya. Hihihihi

Mau ikutan wishful wednesday juga? langsung saja meluncur ke blog Mbak Astrid - PerpusKecil :)