Pages

Showing posts with label Membaca sastra Indonesia 2013. Show all posts
Showing posts with label Membaca sastra Indonesia 2013. Show all posts

Friday, September 20, 2013

Ibu Pergi ke Surga


Judul Buku : Ibu Pergi ke Surga

Penulis : Sitor Situmorang

Penerbit : Komunitas Bambu

Tahun Terbit : 2011

Time is flying like an arrow.

Kumpulan Cerpen dari Sitor Situmorang ini sudah lama menarik perhatian saya. Judul dan lukisan yang berada di sampul depan memikat. Sitor Situmorang dikenal sebagai penyair angkatan 45. Namun baru di perpustakaan saya bisa meminjam buku ini. 

Cerita-cerita sederhana yang diilhami dari perjalanan dan perenungan Sitor Situmorang. Budaya dari Tanah Batak terasa kental di beberapa cerita seperti ‘Ibu Pergi Ke Surga’, ‘Kehidupan Daerah Danau Toba’ dan ‘Perjamuan Kudus’. Sementara perjalanan Sitor di benua eropa tertuang di beberapa cerita lainnya seperti ‘Fontenay Aux Roses’ dan ‘Pertempuran dan Salju di Paris’. Sitor juga menulis hubungan kedekatannya dengan beberapa wanita dalam ‘Kembang Gerbera’, ‘Pribahasa Jepang’ dan ‘Kisah Surat dari Legian’.   

Beberapa cerita pendek yang menarik buat saya :

Ibu Pergi ke Surga. Cerpen yang dijadikan judul buku ini memang istimewa. Unik. Tentang bagaimana Ibu menghembuskan napas terakhirnya di saat orang-orang sedang berpesta tanpa diketahui.

Perjamuan Kudus. Ketika satu persatu anak pulang ke kampung halaman untuk melihat kondisi ayahanda yang sudah sepuh. Pesta 4 hari 4 malam sudah disiapkan.

Cheri. Kisah cinta antara dua manusia yang berasal dari kebudayaan yang berbeda, Cheri dan Mustafa. Ketika tiba waktunya Mustafa kembali ke tanah airnya, Cheri menolak untuk ikut.

Diplomat Muda. Diplomat muda mendapat tugas mendampingi Nyonya pemberantas pelacuran di Indonesia. Si Nyonya melakukan observasi ke daerah “lampu merah”, menonton pertunjukkan dari satu night club ke night club lainnya. Diplomat muda tak mempunyai pilihan untuk menghindari tugas yang merendahkan jabatannya.

Harimau Tua. Permusuhan antara Bapak Tua dengan Harimau yang menerkamnya yang juga membuat kakinya cacat. Dendam lunas setelah harimau berhasil masuk perangkap.

Kota S.  Kota S, sebuah kota yang berada di pesisir barat Sumatera Utara yang pernah mencapai kejayaan pada waktu dahulu. Sekarang perairan timur Sumatera lebih ramai dibandingkan pesisir barat hingga yang tersisa di kota S adalah sepi dan kenangan.


Selain yang saya ulas sedikit diatas masih ada cerpen-cerpen lainnya yaitu ‘Akbar’, ‘Perawan Tengah Hari’, ‘Begitulah Selalu Kalau Hujan’, ‘Jin’, ‘Pertempuran’, ‘Cinta Pertama’,  ‘Kereta Api Internasional’, ‘Pangeran’, ‘Pribahasa Jepang’, ‘Jatmika dan Jatmiko’, ‘Suatu Fiksi dalam Fiksi’, ‘Kasim’, ‘Kehidupan Daerah Danau Toba’. 

Monday, July 15, 2013

Memang Jodoh


Judul : Memang Jodoh
Penulis : Marah Rusli
Penerbit : Qanita
Tahun Terbit : 2013


Selepas lulus dari Sekolah Rakyat di Bukittinggi, Hamli akan melanjutkan studi di Belanda. Ayahandanya, Sutan Bendahara dan Mamaknya, Baginda Raja mengusahakan Hamli berangkat ke Belanda. Ibu Hamli, Siti  Anjani, melarang anaknya ke Belanda. Pikirannya Hamli akan terpikat dengan gadis barat mendorongnya tidak mengijinkan anak laki-laki semata wayangnya merantau ke benua Eropa. Daripada jauh-jauh ke Belanda, Hamli diusulkan menuntun ilmu ke pulau Jawa saja yang lebih dekat dari rumah. 

Hamli mempunyai darah bangsawan Padang. Dari pihak ayahnya yang masih famili dari Istana Pagaruyung dan pihak ibunya yang mempunyai darah bangsawan Jawa. Dengan status sosial dan pendidikannya,Hamli adalah calon menantu idaman yang diperebutkan Ibu-ibu di Padang. Pernikahan menurut adat kaummnya merupakan urusan orang tua dan ninik mamaknya. Anak hanya menuruti keinginan dari orang tua dalam hal jodoh. Selain itu, Hamli sudah ditunangkan dengan anak Mamaknya. 

Hamli mempelajari ilmu pertanian di kota Bogor. Ia berangkat ditemani neneknya, Khatidjah, yang sejak kecil menemaninya kemana-mana. Hamli mempunyai penyakit 'pilu' yang membuatnya kadang teramat sedih dan tidak sadar dengan keadaan sekitar. Neneknya khawatir jangan sampai cucu kesayangannya menjadi gila atau lebih parah bunuh diri. Obatnya ada pada Din Wati, seorang wanita Sunda yang menawan hati Hamli. Keduanya saling jatuh cinta dan memutuskan untuk menikah.

Pertentangan hubungan keduanya pertama-tama berasal dari keluarga Din Wati. Din Wati berasal dari bangsawan Sunda. Pengalaman keluarganya yang pernah menikah dari pulau seberang membuat mereka tidak mau mengulangi hal yang sama. Pernikahan dilangsungkan secara sederhana. Keluarga Hamli di Padang tidak diberitahu untuk menghindari kegaduhan. 

Sayangnya,berita Hamli menikah dengan Gadis Sunda di Bogor sampai juga ke telinga ibundanya dan membuat heboh ninik mamaknya. Hamli dianggap telah mencoreng arang di kening ninik mamaknya. Apa tidak dianggap lagi Ibu dan Ninik Mamaknya? Ibunda Hamli menghadapi serangan dari keluarganya sendirian. Adiknya Baginda Raja malah memutuskan tali kekeluargaan karena Hamli kemenakan yang ia sekolahkan menikah dengan orang lain bukan dengan anaknya.


"Laki-laki Padang tak diizinkan kawin dengan perempuan yang bukan masuk suku Padang. Dipandang sangat hina apabila seorang laki-laki, lebih-lebih perempuan, kawin dengan orang yang berasal dari daerah lain." - (hal 155) 

Berasal dari daerah dan budaya berbeda membuat rumah tangga Hamli dan Din Wati pun sering diguncang prahara. Hasutan dan fitnah datang dari pihak kedua belah keluarga yang tidak senang yang masing-masing mereka mempunyai kepentingan terhadap Hamli ataupun Din Wati. Seorang Datuk Sati diupah untuk mencelakai Din Wati lewat Gasiang Tangkurak. Belum lagi pinangan agar Hamli mau mengambil istri kedua dari gadis Padang yang selalu datang. Hamli bersikukuh tidak mau memadu Din Wati. Begitupun Din Wati tidak rela dimadu oleh suaminya. Lamaran datang ke Ayahanda Hamli, ditolak. Lalu pinangannya dialihkan ke Ibunda Hamli,ditolak. Hingga bujuk rayu kepada Din Wati agar mau merelakan suaminya menikah kembali. Puncaknya Hamli dibuang secara adat oleh kaumnya. Dibuang secara adat berarti tidak diakui secara tali kekeluargaan, hilang hak atas harta warisan, dan tidak boleh menginjakkan kaki di kampung halaman. 

-------

Marah Rusli adalah penulis dari roman Sitti Nurbaya, sebuah kisah yang jadi legenda tidak hanya untuk daerah Padang tetapi juga Indonesia. Marah Rusli menuliskan roman Sitti Nurbaya sebagai caranya memprotes kekakuan adat Minang. Di kota Padang berdiri jembatan yang diberi nama Jembatan Siti Nurbaya. Marah Rusli dijuluki Bapak Roman Indonesia oleh H.B Jassin. Selain Sitti Nurbaya, karya-karya dari Marah Rusli antara lain 'La Hami' dan 'Anak Kemenakan'. 'Memang Jodoh' merupakan kisah semiautobiografi dari penulis sendiri, Marah Rusli, maka kita kembali ke konteks saat itu yang masih kuat memegang tradisi. Memang betul, jaman dahulu laki-laki minang sangat lazim melakukan poligami. Beristri dua atau tiga menunjukkan kebesaran dari laki-laki. Pandangan Marah Rusli terhadap poligami sangat jelas di 'Memang Jodoh' ini, ia menolak untuk memadu istrinya. Namun seiring dengan jaman mungkin urusan pernikahan Minang sudah tidak sesangklek dahulu.

Namun preferensi pernikahan orang minang dengan orang minang menurut saya masih ada sampai saat ini. Mengapa? Jawabannya terdapat juga dalam novel ini. "Bagaimana jadinya negeri Padang, jika telah ditinggalkan oleh anak-anaknya kelak? Siapa yg akan mengurus negeri dan harta pusaka yang tersimpan itu? Siapa yang akan mengerjakan sawah dan ladang yang terbengkalai? Tidakkah semuanya itu akan jatuh juga ke tangan orang lain apabila tak ada yang mengurus dan memeliharanya?" (hal 172-173). Anak-anak yang merantau dikhawatirkan orang tua tidak kembali ke kampungnya, melupakan orang tua yang ditinggalkan di kampung, melupakan adat istiadatnya. Tidak ada salahnya jika menikah dengan sesama suku Minang namun harus diingat bahwa jodoh tetap lah kuasa yang Illahi. Jodoh tidak bisa dipaksakan, sekeras dan sekuat apapun usaha manusia menalikannya. Jika bukan jodohnya ya tidak akan jadi. Bukankah masing-masing manusia sudah dituliskan siapa jodohnya di Lauh Mahfudz ?

Sunday, June 2, 2013

Persiden


Judul : Persiden
Penulis : Wisran Hadi
Penerbit : Bentang Pustaka
Tahun Terbit : 2013

Novel ini menceritakan kisah keluarga besar yang mempunyai rumah pusaka keluarga yang dikenal masyarakat sekitar dengan nama ‘rumah bagonjong’. Ayah Bung, Pa Tandang adalah anak laki-laki tertua. Ia mempunyai tiga saudara laki-laki dan satu saudara perempuan yaitu Pa Mieki, Pa Ragih, Pa Rarau dan Cik Inan.  Dalam kakak beradik jika saling silang pendapat mungkin biasa terjadi. Hubungan Pa Tandang dan adik-adiknya mengalami pasang surut terutama menyangkut soal rumah bagonjong, yang sertifikatnya digadaikan oleh Cik Inan tanpa memberitahu saudara laki-lakinya. Suami Cik Inan, Pa Lendo, sebagai semenda dinilai terlalu ikut campur urusan kakak beradik. Komunikasi di antara mereka terputus sampai-sampai tidak mau bertegur sapa.

Malati, anak perempuan Cik Inan, kembang desa Paratingga digosipkan hamil di luar nikah oleh guru mengajinya. Desas desus tersebut akhirnya sampai ke telinga Pa Tandang. Ia hanya mengetahui bahwa keponakannya dipindahkan sekolah ke Yogyakarta. Berita tersebut bagaikan petir di siang bolong. Malati telah mencoreng nama baik rumah bagonjong. Apalagi mamak-mamaknya bukan orang sembarangan. Cik Inan dan Pa Lendo tidak mau berterus terang mengenai Malati. Dari saudara jauh Pa Tandang diketahui bahwa Malati sudah menikah dan melahirkan anak, namun anak tersebut diasuh oleh Ibu dari suaminya. Malati dipisahkan dari suaminya dan baru boleh bertemu setelah lulus kuliah sementara suaminya masih melanjutkan kuliah.

Dari masalah Malati berkembang menjadi besar ke harta warisan, kewibawaan kaum, kepemimpinan suku, masa lalu rumah bagonjong dan hal-hal berbau mistis. Salah satu nenek dari rumah bagonjong ‘Sampiran’ mendatangi Pa Mikie secara gaib, ia berkata kondisi rumah bagojong sekarang akibat termakan sumpahnya dahulu. Konon Sampiran adalah saudara perempuan dari ibu mereka yang tidak diakui karena hamil di luar nikah dan dibuang dari ke daerah Lubuk. Suami dari Malati masih keturunan dari Sampiran. Artinya mereka masih satu suku. Pa Mikie mendesak Pa Tandang dan Pa Rarau untuk mencari anak Malati. Biar mereka yang mengasuhnya karena bagaimanapun anak Malati adalah penerus dari kaum mereka.   

Penulis menyebut ‘Bung’ seakan-akan sedang berkomunikasi dengan pembaca. Novel Persiden mengemukakan pergeseran nilai, silang pendapat kaum tua dan anak muda, kepatuhan pada adat dan kaitannya dengan dunia modern sekarang. Dalam adat istiadat Minang terdapat pepatah ‘Anak dipangku, Keponakan dibimbing’. Sistem matrilineal dalam minangkabau menurunkan suku dari keturunan garis ibu dan perempuan. Ketika masalah menimpa Malati, anak perempuan Cik Inan, menyeruak tidak hanya menjadi masalah orangtua nya saja. Pa Tandang, Pa Mieki, Pa Ragih, Pa Rarau sebagai mamak-mamak dari Malati juga mendapat sorotan. Bagaimana sih ninik mamak kok tidak tahu menahu kalau keponakannya sudah menikah? Apalagi kalau keadaan wanitanya sudah ‘berisi’ duluan.

Terlepas dari pencarian Malati, Suami Malati dan Anaknya, pokok ceritanya mempertanyakan sikap dan kedudukan ninik mamak dalam dunia yang sudah berubah dan berkembang. Seringkali dalam penyelesaian adat istiadat masing-masing pihak mementingkan ego masing-masing. Semisal tanah-tanah pusaka keluarga sudah dijual digantikan dengan perbelanjaan, ruko atau perumahan. Sehingga persoalan Malati ini lebih banyak dilihat dari sisi pemikiran mamak-mamaknya. Bagaimana perasaan Malati sendiri yang dipisahkan dari anaknya setelah melahirkan hanya sedikit disinggung.

Terkadang penulis tidak hanya menyoroti masalah yang melingkupi cerita keluarga rumah bagonjong, tetapi juga menyindir hal yang lain-lain yang membuat cerita jadi melebar. Saya juga menangkap sindiran halus dari penamaan tokoh-tokohnya.

Saat saya melihat buku ini yang terpikir adalah judulnya yang aneh. Seperti plesetan dari kata presiden. Lalu saya mengenali nama penulis, Wisran Hadi, yang merupakan sastrawan dari ranah Minang. Aha! Saya sudah lama ingin membaca karya beliau namun belum jodoh sama karya-karyanya. Covernya unik. Gambar rumah gadang yang didorong alat berat. Kiasan yang tepat untuk menyiratkan terjadinya pergeseran nilai-nilai adat dan budaya Minangkabau di dalam cerita.

Setelah membaca novel ini tertinggal sebuah kalimat di dalam pikiran saya.

“Apa kau benar-benar mau jadi orang modern dengan meninggalkan segala yang ada dalàm adat dan budaya?”

Tentang penulis :

Wisran Hadi adalah sastrawan/budayawan Indonesia yang lahir dan dibesarkan di ranah Minang, Sumatera Barat. Wisran pernah menulis kumpulan naskah drama berjudul Empat Orang Melayu berisi empat naskah drama: ”Senandung Semenanjung”, ”Dara Jingga”, ”Gading Cempaka”, dan ”Cindua Mato”. Novelnya yang pernah dibukukan antara lain berjudul Tamu, Imam, Empat Sandiwara Orang Melayu, dan Simpang. Novel Persiden ini termasuk dalam novel unggulan sayembara Dewan Kesenian Jakarta tahun 2010. Wisran Hadi tutup usia pada bulan Juni 2011.


Referensi ; 

Tuesday, May 21, 2013

Kuda Terbang Maria Pinto




Kuda Terbang Maria Pinto by Linda Christanty

My rating: 5 of 5 stars





‘Negeri ini negeri bisu. Tiada suara percakapan, selain kepak sayap para penghuni. Mereka terus bekerja, tiada melihat makhluk asing yang datang. Di atas kuntum bunga terbesar,ia melihat perempuan itu duduk dengan mahkota berkilau, sendirian’ - Qirzar

Ada lelaki tua yang merayakan ulang tahun yang sekian dalam 'Perayaan Terakhir'. 'Joao',kisah anak yg bru brumur 14 tahun bergabung dgn pasukan gerilyawan. 'Lelaki beraroma kebun' menceritakan anak rantau yang pulang ke kampung halamannya, pulau penghasil Timah.

‘Perang membuat orang memilih menjadi siapa saja atau apa saja. Tak peduli menjadi pelacur atau nyonya. Bagiku keduanya bisa sama-sama terhormat atau sama-sama sial’- Perang

Dalam 'Makan Malam', pertemuan Ibu dan Ayah yang terpisah 30 tahun karena gejolak politik memberikan rasa asing bagi anak yang tidak mengenal kasih sayang seorang ayah. Seorang waria mendambakan kasih sayang sejati Pria dalam 'Balada Hari Hujan'.
‘Ibu, kalau rasa kemanusiaan saya terpanggil melihat nasib orang-orang yang tidak layak hidupnya. Apa saya harus memasung rasa kemanusiaan saya? Saya nggak bisa berdiam diri, Bu. Doa..Doa.. Ibu suruh saya berdoa. Doa saja nggak cukup. Kita ‘kan nggak bisa menunggu Tuhan menjinakkan bom’ - Rumput Liar
Dalam 'Lubang Hitam',kita membaca kisah Tina dan saudara perempuannya yang mengidap Skizofrenia. Anak perempuan satu-satunya meninggalkan keluarga untuk melawan kaisar yang lalim dalam 'Makam Keempat'.

‘Kubayangkan sungai darah mengalir membelah kota ini, mayat-mayat mengapung, dan masa mudaku tercerabut bagai nyawa ayam lepas, melesat ke awan-awan, bukan surga yang dijanjikan dan apa yang tinggal dari kehidupan hanya debu belaka’ - Danau

Kumpulan cerpen pertama dari Linda Christanty yang terdiri dari dua belas cerita yaitu Kuda Terbang Maria Pinto, Makan Malam, Pesta Terakhir, Lubang Hitam, Balada Hari Hujan, Danau, Lelaki Beraroma kebun, Perang, Joao, Qirzar, Rumput Liar dan Makam Keempat. Judul kumcer diambil dari cerpen pertama yaitu Kuda Terbang Maria Pinto. Linda Christanty menuliskan penindasan, kehampaan, kehilangan, suasana politik, perang dan perlawanan dalam diksi yang menghanyutkan. Sekalipun penulis tidak secara eksplisit menuliskan lokasi atau latar belakang, pembaca bisa mengetahui peristiwa-peristiwa yang terkait dengan cerita tersebut. Cerita-ceritanya terkesan suram dan kelam tapi saya menyukai sepuluh dari dua belas cerpennya. Jika dibandingkan dengan kumcer Linda Christanty yang lainnya yaitu 'Rahasia Selma' dan 'Seekor Anjing Mati di Bala Marghab', saya lebih menyukai kumcer ini.

Wednesday, February 6, 2013

Korupsi

KorupsiKorupsi by Pramoedya Ananta Toer


My rating: 4 of 5 stars




Kemiskinan adalah kutukan bagi hati yang tidak sederhana


Telah dua puluh tahun Bakir menjadi pegawai. Bapaknya dulu pegawai,begitu juga kakeknya. Dahulu menjadi pegawai negeri adalah suatu kehormatan. Bakir memiliki empat anak bernama Bakri, Bakar, Basir dan Basirah. Bakir berharap anaknya menjadi pegawai seperti dirinya sehingga ia namai anak mereka dari huruf B. Semakin hari kebutuhan hidup semakin banyak. Bagian depan rumahnya sudah disewakan pada orang. Kendaraan yang ada hanya sepeda tua yang berkarat. Kenaikan gaji pegawai setiap tahun tidak menutupi kebutuhan hidup mereka sehari-hari. Anak-anak Bakir akan melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi. Kegelisahan Bakir memikirkan biaya sekolah anak membuat pikirannya tak tenang. Ia melihat kawan-kawannya yang mujur dalam kehidupan. Orang-orang yang pernah menjadi bawahannya bisa lebih makmur dari dirinya. "Apakah yang bisa diperolehnya dengan kejujurannya itu? Paling sedikit seratus orang telah menyesalkan kejujuranku yang tidak menghasilkan apa-apa ini".  Terniatlah dalam hati Bakir satu kata, Korupsi!

Korupsi pertama yang dilakukan Bakri adalah mengambil persediaan alat tulis kantor dan menjualnya ke Tauke di Pasar Tanah Abang. Tauke hanya menghargai barang ‘kutipan’ tersebut sebesar Rp 20. Di rumah istrinya terkejut ketika Bakri memberikan uang tersebut. Istri yang telah mendampinginya selama 15 tahun seakan-akan bisa mencium niat korupsi Bakir. Istri Bakir mengutarakan ketakutan jika suatu hari membaca nama suaminya di koran-koran sebagai koruptor. Bakir menantang istrinya,“Kalau aku mau korupsi, apa engkau mau berkata?”. Istrinya berusaha mengingatkan Bakir tetapi ia tidak mengacuhkannya. “Kalau benteng kejujuranmu telah tembus untuk pertama kali. Engkau akan menyerah. Terus menyerah pada nafsu-nafsumu dan engkau tidak akan dapat memiliki bentengmu lagi. Cuma tenaga di luar dirimu saja yang bisa menolongmu”.

Bakri mulai melihat kesempatan apa yang bisa ia manfaatkan dari pekerjaannya. Di kantor Bakri dibantu oleh Sirad,anak muda yang berhati lurus. Sirad sudah seperti anak sendiri yang sering datang berkunjung ke rumahnya. Perubahan sikap Bakri dirasakan Sirad. Pekerjaan yang biasa dilakukan Sirad diambil alih oleh Bakri. Bakri mulai menjauhi orang-orang yang tadinya akrab di tempat kerja. Ia menjadi sensitif dengan gelagat sekitarnya. Ia diliputi kecemasan bagaimana kalau ada yang menyadari tindakan korupsinya. Berikutnya Bakri memanipulasi pembelian kerja sama dengan tauke yang sama. Kali ini jumlah uang yang diterimanya sangat besar.


Setelah mendapat tentangan keras dari istri, Bakir mulai melirik gadis yang sering ada di lamunannya, Sutijah. Sutijah, yang berusia 20 tahun, hidup berdua dengan ibunya di kawasan kumuh. Bakir memberikan uang korupsinya pada Tijah. Gadis polos yang telah mencecap kekejaman hidup akhirnya luluh dalam rayuan rupiah. Bakir meninggalkan istri dan empat anaknya dan menikahi Tijah. Mereka tinggal di rumah yang besar di kawasan puncak Bogor. Perubahan Bakri sekarang nampak jelas. Dandanannya semakin perlente. Sepeda tua berganti dengan mobil Plymouth. Kemeja selalu buatan luar negeri. Penduduk di sekitar rumah menghormatinya karena ia tidak pelit mengeluarkan uang untuk bantuan sosial.


Dalam cerita Bakir,korupsi dimulai dari tindakan sederhana. Dari uang yang kecil lama-kelamaan nilainya berkali-kali lipat. Sudah jelas memanfaatkan kekuasaan atau jabatan demi keuntungan pribadi tapi kenapa koruptor tidak merasa bersalah. Pram menuliskan dari sudut pandang Bakri, si Koruptor. “Kalau aku terima uang sebagai tanda terima kasih, apa salahnya? Itu bukan pelanggaran dan juga bukan kejahatan. Dia beri aku sebagai perseorangan kepada perseorangan. Apa salahnya.” Bakir sebenarnya dikelilingi oleh orang-orang yang jujur yaitu Istri dan Sirad. Keserakahan menjauhkannya dari mereka. Dan keserakahan pula lah yang akan menyeretnya jatuh.

Korupsi ditulis Pramoedya Ananta Toer pada tahun 1954. Lima puluh Sembilan tahun berlalu korupsi masih menjadi persoalan bangsa Indonesia. Hampir setiap hari berita korupsi selalu ada di media massa seakan tidak ada habisnya. Begitu parah kah tingkat korupsi Indonesia? Malu dan Hati Nurani adalah dua hal yang telah hilang dalam diri koruptor karena seperti yang dialami Bakir selalu ada pembenaran dalam tindakannya.

Membaca korupsi ini seakan terbayang-bayang dengan novel korupsi karya Tahar Ben Jelloun. Penulis asal Maroko memang menulis novel berjudul sama karena terinspirasi dengan karya Pram. Karena saya membaca novel Tahar Ben Jelloun terlebih dahulu,saya bisa menduga alur ceritanya tapi saya tetap penasaran apa kata Bung Pram tentang korupsi. Kedua cerita ini semakin menegaskan korupsi tidak mengenal usia, batas geografi, pekerjaan dan partai politik. Yang terakhir ini lagi 'happening' di pemberitaan seminggu terakhir.

Pesan Pram dari novel Korupsi jelas: jangan korupsi !

‘Kalau hanya karena kekurangan belanja, mereka bisa cari kerja lain yang lebih menguntungkan dan tidak menjadi tikus. Tikus! Tikus yang terus menerus merusak sampai akhirnya datang kucing menerkamnya’.

Baca juga review Korupsi - Tahar Ben Jelloun disini.

Friday, January 18, 2013

Rumah Kaca

Rumah Kaca (Tetralogi Buru, #4)Rumah Kaca by Pramoedya Ananta Toer

My rating: 5 of 5 stars



Deposuit Potentes de Sede et Exaltavat Humiles, Dia Rendahkan Mereka yang Berkuasa dan Naikkan Mereka yang Terhina.




Pangemanann,seorang komisaris polisi, mendapat tugas mengawasi pribumi terpelajar. Gubermen Hindia Belanda cemas kebangkitan nasionalisme akan terjangkit pada kaum terpelajar pribumi. Untuk itulah setiap tulisan di surat kabar dianalisa dan diawasi. Minke menempati daftar pertama dalam pengawasan. Sepak terjang harian Medan Prijaji dan organisasi yang dipimpinnya Syarikat Dagang Islam (S.D.I) mengusik ketenangan Gubermen. Minke dibuang ke Ambon. Segala harta kekayaannya dibekukan tanpa lewat pengadilan.

Pengasingan Minke ke Maluku tidak membuat S.D.I mati malah organisasi tersebut mengalami peningkatan jumlah anggota. Hadji Samadi menggantikan Minke dan mengganti nama 'Sarekat Dagang Islam' menjadi 'Syarikat Islam'. Namun Hadji Samadi tidak cukup kuat menghadapi tekanan gubermen. Akhirnya ia menyerahkan pimpinan kepada orang baru yang bernama Mas Tjokro. Pusat organisasi berpindah dari Sala ke Surabaya.

Pangemann dipromosikan dari komisaris polisi ke staf ahli Algemeene Secretarie di Buitenzorg. Pekerjaan Pangemann tak lain mengawasi ketat pribumi secara khusus demi keselamatan dan kenyamanan hidup Gubermen. Semua pribumi yang mengusik kenyamanan Gubermen akan ditempatkan dalam pengamatan Pangemann yang ia namakan 'Rumah Kaca'.

Walaupun Pangemanann berada di pihak gubermen,ia tidak menutupi kekagumannya terhadap Minke. Kadang Pangemanann terjebak dalam pergulatan batinnya sendiri. Orang yang berpendidikan eropa ini merasakan dilema dalam menjalankan tugasnya. Peradaban eropa yang disanjung tinggi nilai-nilai sosialnya hanya berlaku di tempat asalnya."Intelektual bangkrut! Percuma aku belajar selama ini. Korupsi kolonial telah mengkorup diriku,jiwaku. Ya, Tuhan. Aku bukan lagi seorang pemain catur. Aku seorang budak yang patut dikutuk"

Ada beberapa nama yang masuk ke dalam 'rumah kaca' Pangemann setelah Minke dibuang ke Maluku. Seperti 'anak didik' Minke, Marco dan seorang gadis bernama Siti Soendari. Tulisan Siti Soendari di surat menunjukkan ketidaksukaan pada kolonial. Ikon Gadis Jepara digantikan oleh Siti Soendari. Cara yang berhasil untuk menghentikan Gadis Jepara akan dicoba untuk mengendalikan Siti Soendari yaitu dengan menghantarkan si gadis ke atas pelaminan melalui tekanan gubermen ke orang tua bersangkutan.

Setelah menjalani pengasingan di Ambon selama 5 tahun, Raden Mas Minke kembali ke jawa. Ia dijemput oleh Pangemanann. Minke disuruh menandatangani surat pernyataan untuk tidak mencampuri politik dan organisasi. Namun Minke menolak dan pergi menyusuri tempat-tempat yang dikenalnya di betawi. Sayangnya ia telah dilupakan oleh pengikutnya sendiri.

Rumah Kaca adalah buku terakhir dari tetralogi pulau buru. Rumah kaca diceritakan melalui sudut pandang Jacques Pangemanann. Bagaimana cikal bakal dari nasionalisme pribumi terbentuk. Bagaimana cara Algemeene Secretarie melalui Jacques Pangemananann membungkam pergerakan Minke, si pitung modern. Selama di pengasingan Minke tetap menulis. Semua tulisan-tulisannya sampai pada tangan Pangemanann. Secara diam-diam Pangemanann mempelajari tulisan minke di rumahnya. Buku-buku tulis catatan Minke ini diberi judul; Bumi manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak langkah.

Tetralogi pulau Buru merupakan roman sejarah yang menggambarkan awal pergerakan nasional Indonesia. Keempat buku ini ditulis sewaktu Pram ditahan di pulau Buru oleh pemerintahan Orde Baru. Tokoh Minke berdasarkan riwayat dari Raden Mas Tirto Adhi Soerjo,seorang Bapak Pers Indonesia yang mendirikan surat kabar Medan Priyayi di Bandung. Namun Pram tidak hanya menulis tentang sosok Minke saja, ia juga menyoroti wajah kolonial Hindia Belanda yang mengaku berasal dari bangsa yang beradab. Pram juga menyinggung 'kolonial' pribumi yang ikut mempertahankan kelanggengan kekuasaan penjajah. Tak heran jika tetralogi pulau Buru ini disebut-sebut karya masterpiece dari Pramoedya Ananta Toer.

Friday, January 11, 2013

Membaca Sastra Indonesia 2013


Saya kembali berpartisipasi ‘Membaca Sastra Indonesia 2013’ yang dihost oleh Mbak Made Melani.  Saya senang sekali dengan event ‘Membaca Sastra Indonesia’ ini. Buku-buku sastra memang mendominasi rak buku saya, jadi bisa sejalan dengan kegiatan membaca saya.




Aturannya sebagai berikut : 

Kamu bisa memilih mau membaca sastra Indonesia klasik, atau kontemporer, atau keduanya (klasik dan kontemporer)

1.   Tentukan sendiri target jumlah buku yang mau kamu baca untuk kategori yang kamu pilih, atau untuk masing-masing kategori (kalau kamu pilih keduanya). Berapa pun jumlah buku, tak masalah. Yang penting adalah pengalaman membaca dan mengapreasi (baca: mengkritisi), serta berpendapat atas hal yang kamu baca. 
2.      Periode membaca adalah dari Januari 1 sampai Desember 31, 2013.
3.      Genre buku yang dibaca boleh apa saja, fiksi maupun non-fiksi (disarankan yang bersifat humaniora), asal merupakan karya penulis Indonesia. Buku yang kamu baca boleh digabungkan ke reading challenge (yang lain) yang kamu ikuti.
4.      Tuangkan pendapat kamu atas buku yang kamu baca dalam posting di blog kamu (tidak harus punya blog khusus buku). ‘Review’ tidak melulu harus panjang dan formal, kamu bebas mengungkapkan pendapat kamu dalam bentuk posting yang kamu sukai.
5.      Pasang button “Membaca Sastra Indonesia 2013 – Klasik & Kontemporer” di side bar blog kamu, supaya kita juga langsung tahu mengenai keikutsertaan blog kamu di inisiatif ini.


Berapa banyak buku yang akan dibaca terserah partisipan. Saya memilih kedua kategori, klasik dan kontemporer. Saya tidak menargetkan mau baca berapa buku. Kalau bisa sebanyak mungkin (dibaca dan direview),hehehe. Melirik personal challenge di tab sebelah, saya sudah menargetkan membaca buku-buku Mochtar Lubis. Tapi tidak terbatas pada penulis favorit saya tersebut, saya juga ingin membaca karya-karya penulis yang lain. Membaca Sastra Indonesia tidak hanya membuka wawasan saya tentang kebudayaan, sejarah, dan masalah sosial yang ada di Indonesia tapi bisa dikatakan wujud apresiasi terhadap Sastra Indonesia. Untuk tahun ini saya ada tantangan tersendiri yaitu mencoba membaca buku puisi.

Yuk gabung 'membaca sastra Indonesia 2013'! J