Pages

Showing posts with label Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Sejarah. Show all posts

Thursday, July 2, 2015

The Picture of Mining Town of Sawahlunto in the Past





Judul : The Picture of Mining Town of Sawahlunto in The Past
 
Penulis : Rika Cherish
 
Penerbit : Pemerintah Kota Sawahlunto 

Tahun Terbit : 2009
 



Dari jalan menurun yang memasuki pusat kota Sawahlunto, jejak-jejak masa lalu sebagai kota tambang kental terasa. Deretan Silo tua menjulang tinggi. Nampak gedung-gedung dengan arsitektur kolonial yang khas masih digunakan sehari-hari sampai sekarang. Kota ini pernah begitu hidup sebagai kota tambang tertua di Indonesia. Dua kali mengunjungi Sawahlunto saya masih belum puas untuk mengeksplor kota tersebut. 

Buku ini berisi kumpulan foto-foto kota Sawahlunto tempo doeloe. Di tahun 1868 William Hendrick De Greve, seorang geologis Belanda, menemukan deposit batu bara di wilayah sungai Batang Ombilin. Deposit batu bara yang ditemukan dalam ekspedisi tersebut kurang lebih 205 juta ton batu bara. Pemerintah kolonial memulai penambangan batu bara. Pekerja tambang didatangkan dari luar Sumatera Barat yang merupakan tahanan yang disebut orang rantai. Selain nilai historisnya, buku ini menarik untuk mempelajari sejarah dan perkembangan proses penambangan batu bara di Indonesia. Sebagian besar koleksi foto merupakan dokumentasi Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) dan Museum Goedang Ransoem, Sawahlunto. 



 Jalur kereta pengangkut hasil batu bara

Bab pertama mengenai Mining Infrastucture yang menampilkan fasilitas-fasilitas pertambangan seperti steam power plant, rumah sakit, bengkel, dapur umum dan kompleks perumahan pekerja. Bab kedua mencakup proses dan aktivitas pertambangan. Ombilin Tambang batu bara Ombilin merupakan open pit mining dan underground mining. Dari aktivitas membuka lahan, menggali tambang terbuka, membuka lubang tambang.  Lubang pertama yang dibuka untuk tambang dinamakan lubang Mbah Soero yang bisa dikunjungi wisatawan. Bab ketiga adalah mining transportation. Letak Sawahlunto yang berada cukup jauh dari laut membuat transportasi batu bara menggunakan kereta api. Awal pembukaan tambang sebelum ada kereta uap, transportasi batu bara menggunakan kerbau. Bab keempat yaitu Nature and Panorama yang menampilkan landscape dari berbagai area pertambangan. Bab kelima mengenai kehidupan ekonomi, sosial dan budaya. Masyarakat yang multietnis membuat keberagaman budaya. Bab keenam menampilkan figur berasal dari Sawahlunto dan tokoh-tokoh yang pernah mengunjungi Sawahlunto termasuk Presiden Soekarno yang pernah berpidato di Ombilin di tahun 1951. Salah satu putra daerah yang menjadi tokoh nasional adalah Mohammad Yamin.

Anggota rescue


Kedatangan orang-orang dari luar wilayah Sumatera Barat inilah yang kemudian membentuk masyarakat multikultural yang unik yang tidak terbatas dengan suku Minangkabau saja. Setelah penambangan batu bara resmi dihentikan, Sawahlunto sekarang fokus menjadi kota yang berkonsep cultural mining tourism. Gedung Ombilin Mining yang saat ini menjadi gedung PT BA (persero) telah menjadi ikon dari kota Sawahlunto. Saat ini Sawahlunto sedang diajukan menjadi site World’s Heritage City UNESCO.

Saya suka sekali foto-foto hitam putih di buku ini tetapi ada beberapa hal yang mengganjal. Satu mengenai urutan bab. Alangkah bagusnya jika foto disusun dan dirunut dari sejarah ketika batu bara ditemukan, lahan dibuka, dan hingga pasca kemerdekaan. Kurang sreg menemukan foto zaman kolonial belanda di tengah buku bukan di awal. Satu lagi yang perlu diperbaiki adalah caption foto yang hanya dalam bahasa Inggris. Lebih bagus lagi dilengkapi dengan bahasa Indonesia. Jika pembaca bingung atau kurang mengerti bahasa Inggris bisa dibandingkan dengan bahasa Indonesia. Penggunaan bahasa Inggris sendiri pun tidak konsisten karena daftar isi bab enam menggunakan bahasa Indonesia. Semoga ada revisi jika buku ini dicetak ulang ya. :)


Wednesday, January 15, 2014

Kepulauan Banda : Kolonialisme dan Akibatnya di Kepulauan Pala



Judul : Kepulauan Banda ; Kolonialisme dan Akibatnya di Kepulauan Pala

Penulis : Willard A. Hanna


Penerbit : YOI

Tahun Terbit : 1983


Rempah-rempah membawa bangsa Eropa berlomba-lomba berlayar sampai ke sumbernya. Tiga komoditas utama, cengkeh, pala dan fuli serta lada, sangat diperlukan di masa itu. Komoditas tersebut dibawa oleh pedagang Arab dan China ke Eropa. Setelah penaklukan Malaka tahun 1511, Alfonso de Albuquerque terus mencari keberadaan pulau tersebut. Setahun berikutnya Portugis berhasil sampai di pulau Ternate, penghasil cengkeh. Sejarah Banda mulai terperinci mulai tahun 1599, waktu muncul pelaut dan pedagang Belanda yang pertama, Jacob van Heemskerk. Kemudian disusul dengan datangnya orang Inggris pada tahun 1601. 

Penduduk Banda menyambut kedatangan orang-orang asing kulit putih. Pala Banda mempunyai keistimewaan dengan keharumannya yang unik. Keuntungan yang diperoleh pedagang Belanda bisa mencapai 1000 persen. Hasil yang menggiurkan, bukan?. Untuk memperoleh keuntungan yang lebih besar, VOC yang dipimpin oleh Heeren XVII, menambah kapal-kapal ekspedisi ke kepulauan Maluku. Perdagangan barter disepakati setelah orang Belanda memberi hadiah kepada "orang-orang kaya" (kepala kampung atau orang-orang tua). Kongsi dagang Belanda mendapat tantangan dari East India Company (EIC) milik Inggris. Di Banda, Inggris memilih Pulau Run sebagai pangkalan mereka. Kelak pulau ini akan dibarter dengan pulau Manhattan di Amerika Serikat.

Pada tahun 1602, beberapa "orang kaya" setuju menandatangani kontrak yang memberikan hak monopoli yang tidak dapat dibatalkan. Orang-orang Banda lebih menyukai pedagang Jawa, Bugis, Cina dan Arab sebagai mitra dagangnya. Ambisi Belanda untuk menguasai perdagangan rempah-rempah sudah terlihat jelas. Orang Belanda menetapkan harga yang tidak dapat ditawar, ketidakacuhan terhadap kebiasaan setempat, barang dagangan yang tidak sesuai dan peringatan agar tidak berdagang dengan Inggris.

Laksamana Pieterszoon Verhoeven pada tahun 1608 mendapat tugas dari Heeren XVII. "Kami meminta perhatian Anda khusus terhadap pulau-pulau tempat pohon-pohon cengkeh dan Pala tumbuh dan kami menginstruksikan Anda untuk berjuang memperolehnya demi kompeni baik melalui perjanjian maupun kekerasan". Verhoeven terbunuh dalam ekspedisi tersebut beserta rombongan anak buahnya. Seorang pedagang muda bawahan Verhoeven berhasil menyelamatkan diri. Kelak pedagang muda ini dikenal sebagai penakluk Banda pada tahun 1621, ia bernama Jan Pieterszoon Coen.

Saat Banda dikuasai oleh VOC, lahan Pala diolah oleh perkenier yang merupakan pemegang konsesi. Kebanyakan perkenier asli adalah bekas pegawai kasar VOC, yang sebagian besar adalah petualang, penipu dan penjahat. Perselisihan kerap terjadi antara VOC dengan perkenier mengenai kontrak apakah hak perkenier mendekati hak sewa atau hak milik. Perdagangan Pala mulai mengalami kemunduran pada 1800-an. Selain Pala sudah tumbuh di pulau lain (Jawa dan Sumatera), korupsi yang merajalela di VOC dan faktor sifat perkenier yang bermalas-malasan juga turut berperan. Pembukuan VOC berantakan. Perdagangan ilegal juga kerap terjadi walaupun VOC melakukan inspeksi di darat dan laut.

Pada tahun 1930-an Banda Neira menjadi tempat pembuangan tokoh politik tercatat Dr Tjipto Mangunkusumo, Hatta, dan Sjahrir. Hatta dan Sjahrir mendirikan sekolah informal untuk anak-anak Banda. Mereka memperkenal dunia luar melalui buku-buku bacaan. Sayangnya, Hatta dan Sjahrir tidak mempelajari sejarah Banda dan orang-orang Banda. Mereka tenggelam dalam studi pribadi mereka seperti filsafat Jerman, sastra Perancis, sejarah Inggris dan lain-lainnya.

Memang tidak mencakup semua periode sejarah dari kepulauan Banda. Buku ini lebih banyak mengulas Banda di masa VOC. Mungkin karena sumber-sumber sejarahnya terbatas, tidak dijelaskan ketika masa Portugis atau lebih jauh lagi bagaimana orang Banda bisa menjalin hubungan dagang dengan pedagang Cina dan Arab. Setelah perdagangan Pala mundur, nama Banda kembali mencuat karena pengasingan Hatta dan Sjahrir. Setelah itu, pulau kecil di Timur Indonesia ini nyaris terlupakan. Saat ini bidang pariwisata bisa membantu Banda untuk kembali bersinar, keindahan alam bawah laut dan sejarah pulau tersebut bisa menarik minat wisatawan. 

Saya sudah lama berminat dengan Banda Neira. Selain keinginan berkunjung ke sana suatu hari nanti, saya tertarik dengan sejarah Palanya. Buku ini membuat saya semakin berminat untuk membaca buku-buku sejarah mengenai Banda lainnya.

Friday, June 24, 2011

Catatan Perang Korea - Mochtar Lubis

Catatan Perang KoreaCatatan Perang Korea by Mochtar Lubis

My rating: 3 of 5 stars


Buku ini pertama kali diterbitkan pada tahun 1951. Semenjak saya mengoleksi semua karya-karya Mochtar Lubis,buku ini masuk daftar must-have dan selama hunting buku saya tidak pernah melihat wujud buku ini. Hanya informasi dari catatan riwayat dari Mochtar Lubis bahwa buku ini pernah dicetak di tahun 1950-an. Makanya saya hampir tidak percaya ketika Bang Epi bilang buku ini ada di galeri penerbit YOI. Ternyata benar, buku ini dicetak selang 49 tahun dari cetakan pertama.

Setelah perang dunia kedua berakhir, Korea sedang bergejolak. Catatan Perang Korea merupakan karya jurnalistik dari Mochtar Lubis ketika bertugas menjadi wartawan perang atas undangan PBB . Korea Selatan dengan didukung Amerika Serikat berhadapan dengan Korea Utara yang dibantu oleh Rusia. Perang Korea digambarkan oleh Mochtar Lubis sebagai runtuhnya peri kemanusiaan.