Pages

Friday, November 8, 2013

Buying Monday 3


Hiyaaa udah lewat sebulan aja. Beli buku apa aja yah bulan Oktober kemarin.

Beli di Carefour Kota Kasablanka. Buku yang diobral tidak sebanyak di carefour lainnya tapi lumayan dapat dua buku yang pengen dibaca.

1. Cacthing Fire (Suzanne Collins)

2. Tahta untuk Rakyat - Biografi Sultan Hamengku Buwono IX

Beli di toko buku diskon tenbooks yang ada di Mall Kota Kasablanka Lt 2. koleksi bukunya kurang lebih sama dengan di gramedia shocking sale. Dapat tiga buku :

1. Entrok - Okky Madasari

2. The Help - Kathryn Stockket

3. A Moveable Feast - Ernest Hemingway

lima buku teratas hasil titipan ke Dinoy dan Chei BBI

Buku-buku yang nitip dari teman BBI :

1. John Grisham - Ford County

2. 86 - Okky Madasari

3. City of beasts - Isabel Allende *yang ternyata sudah punya dan dibaca*

4. Kerajaan Naga Emas - Isabel Allende

5. The House of Spirits - Isabel Allende

Selain buku-buku diatas, saya sempat ke Gramedia Matraman. Beli buku sebagai berikut :



1. Maryam - Okky Madasari

2. Orang-orang Proyek - Ahmad Tohari

3. Dear John - Nicholas Sparks

4. La Barka - Nh. Dini

5. Spreekt u nederlands ? - Sofia Thrion.

Bulan ini langsung beli 3 bukunya, Okky Madasari. Penasaran sih dengan bukunya.

Mau ikutan Buying Monday ? Silahkan meluncur ke blognya Aul disini.

Keep reading ;)

Wednesday, November 6, 2013

Catatan dari Indonesia Book Fair 2013

Panggung utama Indonesia Book Fair 2013

Indonesia Book Fair datang kembali ! Bertempat di Istora Senaya, pameran buku berskala nasional ini digelar dari tanggal 2 – 10 November 2013. Di hari pembukaan, grup whatsapp BBI Jabodetabek langsung ramai dengan info-info buku diskon dan murah. Saya berusaha mengabaikan godaan yang tidak pernah saya tolak, beli buku baru sementara itu timbunan buku yang belum dibaca semakin menggunung. :P Sebenarnya saya kepengen datang event Sokola Rimba di IBF tapi engga ada teman keluar. Adik cewek sedang belajar kelompok di rumah temannya. Ajak adik yang cowok dia tidak mau kalau berjalan berdua, takut dikira pacaran. Hahaha. Baru deh keesokannya saya ke IBF setelah jalan-jalan ke museum. Weekend kemarin memang sedang ada banyak acara di GBK sehingga minggu-minggu macetnya luaaar biasa di Sudirman. 

Masuk ke area pameran IBF, pengennya muterin dulu sekali. Quick skimming. Untuk buku-buku bahasa Inggris, stand Periplus wajib dikunjungi. Teman BBI ada yang dapat The Cuckoo’s Calling dan The Fault in Our Stars dengan harga 50.000 saja. Mantap! Giliran saya ngubek-ngubek boks Peri belum ada buku yang pengen banget saya beli. Saya berjalan kea rah kanan dari pintu masuk. Ada stand Republika yang memajang novel terbaru Tere liye, Amelia. Tak perlu pikir dua kali, sebagai fans beliau langsung saya beli dengan diskon 20%. Cuman kenapa ya covernya beda dengan novel-novel serial anak mamak terdahulu. Cover “Amelia” ini beda sendiri, tidak setipe dengan “Eliana”, “Burlian” atau “Pukat”.

Dua buku pertama yang dibeli di IBF

Ada kenikmatan tersendiri menelusuri judul-judul buku yang disusun rapi. Konon, ruang kenanga  4 heboh dengan buku murah dari Gramed. Sebenarnya untuk terbitan grup tersebut saya tidak berharap banyak, mengingat mereka sudah sering bikin Gramedia Shocking Sale dan Sale di Carefour. Ya tidak ada salahnya melihat-lihat. Kalau penggemar cerita Harlequin, ada banyak buku Harlequin yang diobral. Saya beli kumpulan cerpen dari Hamsad rangkuti.

Bagi saya stand buku langka selalu bikin mupeng. Mendapati buku wishlist yang sudah langka merupakan suatu kebahagiaan. Saya tertarik dengan biografi AA Navis. “Berapa ini Pak?”, tanya saya. “85.000”. Glek.. Saya kembali melihat-lihat. Ada satu buku Mochtar Lubis yang belum saya punya. “Berapa pak”, saya mengacungkan buku merah tersebut. Emmmm..*bapaknya berpikir keras* “85.000”, jawabnya. Haaa.. saya kaget. Harganya dua kali lipat dengan harga buku normalnya tapi ya itu susah ditemukan. Saya tawar tapi cuma turun 5.000 saja. Baiklah, belum berjodoh.  Betapapun saya ingin memiliki buku yang sudah termasuk langka, saya sesuaikan dengan budget.

beli buku di stand propinsi Sumatra Barat

Saya masuk ke ruangan yang terdiri dari stand-stand perpustakaan daerah dan propinsi. Pengunjung tidak terlalu ramai disini. Saya ke stand Propinsi Sumatera Barat. Di stand ini selain buku-buku dari ranah Minang, ada juga lho jual keripik balado Christine Hakim. Disini saya membeli kamus umum bahasa Minangkabau – Indonesia. “Kok beli ini?”,tanya adek saya. Bagi saya saja berbicara bahasa Minang dengan teman di kampung suka diketawain karena logat dan kata-katanya bahasa Minang Saisuak *dibaca : jadul*. Apalagi buat adek-adek yang tidak bisa bahasa Minang. Mereka kurang lebih mengerti tapi tidak bisa ngomong Minang. “Ini khusus buat kalian”. Kamusnya diskon lagi 20%. Ada tiga buku yang diobral 10.000, yaitu novel Wisran Hadi berjudul ‘Orang-orang Blanti’, kumcer AA Navis dan buku tentang seorang pejuang wanita bernama Siti Manggopoh. AA Navis dan Wisran Hadi adalah sastrawan dari Minang. Ambil tiga-tiganya plus kripik balado Christine Hakim yang kecil, total 85.000. Sama persis dengan harga biografi AA Navis yang saya pengen.

Terakhir sebelum pulang, saya mampir ke stand Mizan. The Casual Vacancy didiskon 50%. Di rak diskon 50%, ada beberapa buku yang menarik lainnya yang saya beli. Kuantar kau ke gerbang, Kisah Bung Karno dan Bu Inggit. Blue Romance, ini penasaran dari review di goodreads. Al Asbun – Pidi Baiq, ini penulis kesukaan adek cowok. Remember Dhaka, random ngambilnya. Total semuanya sama dengan harga normal TCV.  Puaaaas. Hihihi.

Buku Mizan diskon 50%

Dalam IBF tahun ini,saya lebih menahan diri. Stand buku dari YOI dan Kobam sangat bikin mupeng. Tapi harga buku yang saya pengenin masih mahal. Kalau tidak ada budget constraint mungkin saya bisa kalap di kedua stand tersebut. IBF masih berlangsung hingga minggu besok, kesana lagi ga ya? *dilema* 

Friday, November 1, 2013

Kupu - Kupu Fort de Kock


Judul : Kupu - Kupu Fort De Kock

Penulis : Maya Lestari GF

Penerbit : Koekoesan

Tahun Terbit : 2013

Pesilat di lahir mencari kawan, di bathin mencari Tuhan.

Pertempuran anggota Tiga Perguruan dengan kawanan Singo Balang di Jembatan Siti Nurbaya berhasil membunuh Singo Balang ke alam kubur. Keberhasilan ini membuat lega dunia persilatan. Orang jahat dari yang terjahat telah mereka basmi. Singo Balang tersohor dengan kekejamannya. Singo Balang mengambil jiwa, inti kehidupan anak buahnya dan menjadikan mereka layaknya Zombie. Tinggal membereskan anak buahnya yang tercerai berai. Kekuatan mereka sudah melemah tanpa pemimpin mereka.  Namun, tiga perguruan tak mengira perjuangan mereka belum lah menemui titik akhir. Ada seseorang yang melancarkan serangan balasan. Siapakah dia ?

Limpapeh melakukan interogasi pada Malam, perempuan tua yang pernah menjadi komplotan Singo Balang. Malam diselamatkan dari penyerbuan ke Ampa, markas Singo Balang yang terletak jauh di bawah Lubang Jepang. Dari keterangan Malam terbuka lah informasi bahwa Singo Balang mempunyai anak. Kemungkinan anak tersebut yang menuntut balas dendam. Informasi yang lebih mengejutkan lagi, Ibu anak Singo Balang adalah anggota dari Tiga Perguruan. Apakah ada pengkhianat di antara mereka? Limpapeh menyusun strategi untuk menangkap anak dari Singo Balang. Kejahatan Singo Balang jangan sampai dihidupkan kembali oleh darah dagingnya.

Singo Balang menguasai silat sama pandainya dengan guru-guru di Tiga Perguruan. Keahliannya digunakan untuk kejahatan. Ia bisa menghisap intisari kehidupan manusia dan menjadikan orang tersebut kaki tangannya. Membunuh, jual beli narkotika, merusak generasi penerus bangsa. Kekuatan anak buahnya ada di diri Singo Balang. Jika Singo Balang mati, mereka pun musnah. Seharusnya begitu. Situasi berubah dengan adanya anak Singo Balang. Tanda-tanda kehadiran anak buah Singo Balang diketahui melalui rajah melati di lengannya. Uniknya anak Singo Balang tidak terdeteksi oleh Limpapeh. Kenapa bisa sampai luput?

Di luar dunia persilatan, Limpapeh menjelma gadis biasa yang bernama Shaira.  Kekuatannya tidak diketahui orang awam. Limpapeh memutuskan memulai pencarian anak Singo Balang dari Bukittinggi. Jika siang hari, ia berbaur dengan turis lokal di Pasar Ateh, Bukittinggi. Saat malam, ia melacak jejak ke dalam Lubang Jepang. Dalam pencariannya Shaira bertemu dengan Arun, lantas mereka berdua jatuh cinta. 

Bagaimana akhir pencarian Limpapeh Gunuang Singgalang ? 

Saya jarang membaca genre fiksi silat. Kupu-kupu Fort de Kock ini mengingatkan kembali dengan cerita-cerita silat yang saya baca waktu kecil karya Bastian Tito. Dengan adanya beberapa karakter perempuan yang jago silat memberikan pandangan lain perempuan pun bisa menjadi bersilat setangkas laki-laki. Penulis tidak hanya lihai menuliskan pertempuran yang detail tetapi juga membahas filosofi-filosofi silat khususnya silek Minangkabau. Di antaranya yaitu silek lintau, silek sitalarak,silek kumango, silek harimau dan lain-lain.


"Bagaimanapun, silat bukan untuk dipamerkan, ia hanya alat untuk menegakkan kebenaran".